PEPO.id - Bell's palsy merupakan gangguan kelemahan otot pada satu sisi wajah yang bersifat sementara. Penderitanya biasanya mengalami wajah yang tampak melorot di satu sisi. Kelainan ini lebih sering terjadi pada wanita hamil, penderita diabetes, dan individu dengan HIV/AIDS.

Kondisi ini muncul akibat kerusakan saraf wajah, yang juga bisa memengaruhi indra perasa serta produksi air mata dan air liur. Gejalanya biasanya muncul secara mendadak dan cenderung membaik dalam waktu beberapa minggu.

Wajah penderita akan terlihat tidak simetris, dengan satu sisi tampak terkulai. Penderitanya hanya mampu tersenyum di satu sisi wajah, sementara sisi lainnya sulit untuk menutup mata. Kondisi ini juga dikenal sebagai kelumpuhan wajah perifer akut.

Baca Juga: Teknik Pernapasan untuk Jaga Tingkat Stres Agar Memulihkan Keseimbangan Sistem Saraf

Penyebab pasti Bell's palsy masih belum diketahui. Namun, para ahli menduga hal ini berkaitan dengan pembengkakan dan peradangan pada saraf wajah, atau mungkin reaksi tubuh terhadap infeksi virus tertentu.

Faktor Risiko Bell's Palsy

  1. Sejumlah studi menunjukkan adanya hubungan antara migrain dan peningkatan risiko Bell’s palsy.
  2. Usia 15-60 tahun lebih rentan mengalami kondisi ini.
  3. Penderita diabetes dan infeksi saluran pernapasan bagian atas memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalaminya.
  4. Wanita yang sedang hamil, terutama pada kehamilan trimester ketiga, cenderung lebih rentan terhadap kondisi ini.
  5. Infeksi pada saluran pernapasan bagian atas seperti flu atau pilek bisa meningkatkan risiko terjadinya Bell’s palsy.
  6. Meski jarang, riwayat keluarga dengan serangan berulang menunjukkan faktor genetik mungkin terlibat.

Penyebab Bell's Palsy

Hingga kini, penyebab pasti belum diketahui. Namun, kemungkinan besar dipicu oleh tekanan atau gangguan pada saraf wajah, serta peradangan akibat infeksi virus, seperti virus herpes.

Baca Juga: Ternyata Ada Posisi Tidur yang Buat Wajah Cepat Keriput

Bell's palsy tidak berhubungan dengan stroke. Beberapa faktor penyebab lainnya adalah:

  • Kelumpuhan wajah bawaan.
  • Cedera akibat kecelakaan, seperti luka di dagu atau retakan tulang tengkorak.
  • Cedera pasca operasi, khususnya pada kelenjar parotis.
  • Virus seperti herpes simplex, Epstein-Barr, dan cytomegalovirus diduga memiliki kaitan dengan kondisi ini.

Gejala Bell's Palsy

Gejala bisa bervariasi antara kelumpuhan sebagian atau total. Beberapa gejala umum meliputi:

  • Nyeri pada sisi wajah dan telinga.
  • Sensitivitas telinga terhadap suara.
  • Telinga berdenging.
  • Gangguan indra perasa.
  • Air liur berlebih dari sisi mulut yang lumpuh.
  • Mulut dan mata terasa kering.
  • Nyeri di sekitar rahang.
  • Sakit kepala dan sensasi berputar.
  • Kesulitan makan, minum, dan berbicara.

Baca Juga: Kebiasaan Harian yang Bisa Bikin Wajah Terlihat Awet Muda, Salah Satunya Makan Cukup Protein

Perawatan Bell's Palsy

Apabila diketahui penyebab pasti seperti infeksi, maka pengobatan akan difokuskan untuk mengatasi penyebab tersebut. Bila tidak, penanganan difokuskan pada pengurangan gejala. Salah satu fokus utama adalah perlindungan mata dari kekeringan dan iritasi.

Perawatan mata meliputi penggunaan tetes mata di siang hari, salep malam hari, atau pelembap ruangan untuk menjaga kelembapan. Ini penting guna mencegah kornea tergores.

Dokter juga dapat memberikan beberapa jenis terapi berdasarkan tingkat keparahan gejala dan kondisi pasien, seperti:

Baca Juga: 5 Bahan Alami untuk Kesehatan Kulit Wajah yang Bisa Menunda Proses Penuaan

  • Steroid untuk menurunkan peradangan.
  • Obat antivirus seperti asiklovir.
  • Obat pereda nyeri.
  • Terapi fisik guna menstimulasi otot wajah.

Pencegahan Bell's Palsy

Meski tidak selalu bisa dicegah, gaya hidup sehat dapat membantu menurunkan risiko. Konsumsi makanan kaya serat, olahraga rutin, dan pemeriksaan kesehatan berkala disarankan sebagai langkah pencegahan.