PEPO.id - Harga tanah atau rumah di Kota Metropolitan menggila karena begitu mahal.
Bagi saya, seorang lajang dengan gaji UMR hanya memimpikan tempat tinggal permanen di pusat kota.
Tak heran jika saat jauh dari keluarga, kos-kosan menjadi pilihan tepat bagi Anda untuk mengadu nasib sambil mengumpulkan pundi-pundi.
Saat itu saya tinggal di sebuah kos sederhana di Jakarta Selatan. Tidak hanya bujangan, tetapi juga pasangan suami istri.
Baca Juga: Wisata Kuliner Semarang Hits, Kenikmatan Rasanya Bikin Menggoyang Lidah
Nyatanya, sangat tidak nyaman, lingkungan yang sama dengan pasangan. Namun, bagi saya yang lajang, terkadang hal itu menjadi semacam hobi.
"Bisa cuci mata melihat istri tetangga yang cantik-cantik" gumamku.
Saat itu saya sedang bekerja shift malam. Hal itu, membuat saya sering berinteraksi dengan istri tetangga saat dia bekerja di siang hari.
Semua gosip panas seputar lingkungan saya dipahami dengan baik. Ada rumor perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Baca Juga: Lakukan Kebiasaan Ini untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri, Praktekan Mulai Sekarang
Saya mencoba untuk mengenal seorang wanita bernama Onia lebih baik melalui sosialisasi.
Onya baru setahun menikah dan belum juga dikaruniai seorang anak. Dia adalah ibu rumah tangga sejati karena hanya suaminya yang bekerja.
Pantas saja O’Neill meminta bantuan saya ketika ada masalah dengan fasilitas di kost.
Maklum, ibu kost sudah memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengelola deretan hunian miliknya.
Baca Juga: Makanan Khas Semarang Enak dan Lezat, Tempatnya Selalu Ramai Diserbu Pelancong
Onya memang sangat senang senam dengan menggunakan baju seksi di depan rumah sambil diiringi lagu saat sore hari.
Akan tetapi, saat itu goyangan Onya saat senam sangat bersemangat dan akhirnya mengenai paralon kolam penampungan air. Alhasil, peralon patah dan seluruh area kost menjadi becek.
Aku langsung sigap merespon dan cepat memberbaikinya.
"Mas Angga tolong ini keluar jadi becek," teriaknya.
"Waduh-waduh becek kenapa, kan, gak ada suami mba?," ledekku.
"Peralonnya kena goyanganku patah mas, masa gitu aja gak kuat ya," sahut Onya.
Akhirnya aku dan Onya bergelut memperbaiki peralon penampungan air berduaan hingga basah-basahan bersama.***


