PEPO.id – Film Negeri Para Ketua, yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 28 November 2024 mengeksplorasi dinamika sosial di Kota Medan melalui campuran komedi dan drama.
Film yang disutradarai oleh Agustinus Sitorus ini menggambarkan konflik antara lima geng besar yang masing-masing menguasai area tertentu di kota yang kaya akan budaya.
Agustinus Sitorus, sebagai sutradara dan produser film ini, menyatakan bahwa film ini terinspirasi dari kecintaannya terhadap Kota Medan dan keberagaman budayanya.
Baca Juga: Puang Bos: Film Tentang Keindahan Kapal Pinisi Kebanggan Sulawesi Selatan dan Perayaan Cinta Sejati
Sinopsis
Cerita dimulai dengan Acong, ketua Geng Tionghoa, mencoba menjodohkan adiknya, Kenzo, dengan Anjali, adik dari ketua Geng India Rakesh.
Ketua Geng Batak, Binsar, yang ternyata memiliki hubungan asmara dengan Anjali, menentang rencana ini, yang bertujuan untuk memperkuat aliansi antara kedua geng.
Ketika Malik, ketua Geng Melayu, menyadari bahwa perjodohan ini melanggar aturan tidak tertulis yang ditetapkan antara mereka, keadaan menjadi lebih rumit.
Baca Juga: Tampil Berbeda Dari Biasanya, Sal Priadi Bacakan Dongeng Pada Joyland Festival 2024
Rencana ini justru menimbulkan konflik yang lebih besar di antara para ketua geng daripada menghasilkan perdamaian.
Dengan latar belakang budaya lokal yang kental, film ini menampilkan keindahan Kota Medan melalui berbagai lokasi syuting yang ikonik.
Selain itu, elemen komedi dalam film ini diharapkan dapat membuat penonton tertawa sambil tetap menyampaikan pesan moral yang mendalam.
Film ini tidak hanya berbicara tentang konflik geng, tetapi juga tentang bagaimana pentingnya berbagi dan menerima perbedaan dalam masyarakat yang beragam.
Negeri Para Ketua diharapkan memberikan pelajaran tentang pentingnya toleransi dalam masyarakat multikultural.
Film ini memiliki karakter yang kuat dan alur cerita yang menarik yang akan menghibur penonton dari berbagai kalangan.
Negeri Para Ketua mengajak penonton untuk mempertimbangkan bagaimana perbedaan dapat menyebabkan konflik dan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dalam konteks Kota Medan yang kaya akan budaya dan etnisitas.
(Dinda Putri R)

