PEPO.id - Karya terbaru James Gunn dalam film Superman memicu perdebatan hangat di kalangan para penggemarnya. Tak hanya soal selera, tapi juga memunculkan debat filosofis dan geopolitik. Dengan pendekatan baru yang memanusiakan sang superhero, film ini memecah opini publik.
Cerita bermula dari kekalahan Superman oleh sosok misterius bernama Hammer of Boravia, yang ternyata adalah Ultraman. Ia dikendalikan Lex Luthor lewat teknologi canggih. Superman yang terluka dibawa oleh anjingnya, Krypto, ke Fortress of Solitude untuk pemulihan.
Dalam Fortress of Solitude, Superman menyaksikan pesan hologram dari orang tuanya, Jor-El dan Lara. Akan tetapi, pesan tersebut dibajak oleh Lex Luthor yang lantas memutarbalikkan fakta seolah Superman bertujuan menaklukkan bumi dan memperbanyak keturunan Kryptonian.
Baca Juga: Akhirnya! Disney Resmi Membocorkan Sinopsis Film Fantastic Four: The First Steps
Manipulasi itu membuat kepercayaan masyarakat terhadap Superman perlahan runtuh. Ia ditangkap demi alasan keamanan nasional dan dijebloskan ke Pocket Dimension bersama Metamorfo. Lex memanfaatkan kryptonite sebagai senjata untuk melemahkan kekuatan Superman.
Setelah menyaksikan kebrutalan Lex, Metamorfo akhirnya berbalik arah dan membantu Superman melarikan diri bersama Mr. Terrific. Kembalinya Superman disambut penyelamatan Metropolis dari ancaman black hole dan investigasi jurnalis Lois Lane yang membongkar kebusukan Lex.
Di bawah pengarahan James Gunn, film ini memperlihatkan sisi baru Superman: bukan dewa, melainkan manusia dengan empati dan kelemahan. Karakter ini kembali menyuarakan harapan lewat tindakan-tindakan kecil yang penuh kasih.
Visual film ini terasa berbeda dibanding versi sebelumnya. Metropolis digambarkan terang dan optimis, meninggalkan filter kelabu ala era Snyder. Kehangatan visual ini menegaskan pesan moral yang ingin disampaikan film.
Penampilan David Corenswet sebagai Superman cukup meyakinkan, meskipun transformasinya ke Clark Kent dinilai kurang menonjol. Aura heroiknya masih terlalu menempel saat menjadi jurnalis biasa.
Di sisi lain, Nicholas Hoult tampil meyakinkan dalam memerankan karakter Lex Luthor. Ia bukan lagi villain generik, melainkan ilmuwan narsistik dengan motivasi relevan: ingin manusia menguasai dunia, bukan alien.
Baca Juga: Mengenal Karakter-Karakter Kunci dalam Blue Lock: Ambisi dan Persaingan dalam Dunia Sepak Bola
Film ini juga memperkenalkan Justice Gang yang terdiri dari Guy Gardner, Hawk Girl, dan Mr. Terrific. Mereka tidak hadir sebagai gangguan, tapi sebagai representasi alternatif dari nilai-nilai kepahlawanan yang berbeda dari Superman.
Sejumlah adegan krusial turut memperdalam narasi, seperti wawancara penuh ketegangan antara Lois Lane dan Clark, serta percakapan emosional antara Superman dan Lex Luthor yang membahas konflik moral dan identitas.
Soal efek visual, film ini tampil prima dalam adegan siang hari, terutama saat pertarungan di Metropolis. Namun, bagian Pocket Dimension terasa kurang matang dan gagal menyamai kualitas visual bagian lainnya.
Baca Juga: Akting Memukau Josephine Bornebusch dalam ‘Let Go’: Kisah Cinta dan Kehilangan
Konflik fiktif Boravia dan Jarhanpur menjadi refleksi geopolitik masa kini, menggambarkan bagaimana Superman menjadi simbol intervensi moral dalam konflik yang penuh propaganda dan ketimpangan kekuasaan global.
Sayang sekali, kehidupan Clark Kent sebagai reporter Daily Planet kurang mendapat sorotan mendalam. Padahal, momen-momen interaksinya dengan rekan kerja bisa memperkuat ilusi identitas gandanya yang menjadi ciri khas Superman.
James Gunn juga mengambil risiko besar dengan memutarbalikkan warisan moral Jor-El. Alih-alih bijak, Jor-El malah memberi pesan yang etisnya dipertanyakan. Hal ini menambah kompleksitas krisis identitas Superman.
Baca Juga: Film Splinter Cell Batalk Digarap, Ini Penjelasan Dari Sutradara
Dari aspek musikal, John Murphy mempersembahkan aransemen segar dari tema ikonik karya John Williams. Meski masih belum sekuat karya Hans Zimmer, musik ini sukses menyatukan nuansa nostalgia dan interpretasi emosional baru.
Akhirnya, film ini memilih jalan yang tidak biasa: menunjukkan Superman kalah, namun tetap mulia. Kekalahannya bukan kelemahan, melainkan bentuk keberanian tertinggi: memilih melindungi meski harus berkorban.
Dengan nuansa emosional, visual yang cerah, dan narasi yang sarat refleksi moral, Superman versi James Gunn ini menjadi sebuah redefinisi karakter yang pernah dianggap terlalu sempurna. Kini, Superman kembali menjadi manusia dan harapan.
