PEPO.id – Festival Film Indonesia (FFI) 2024 menggelar upacara penghargaan yang sangat penting pada malam Rabu, 20 November 2024, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD di Tangerang.
Salah satu film yang sangat berkesan dan mendapatkan penghargaan istimewa adalah “Under the Moonlight (Nur)”, sebuah film dokumenter yang mengangkat suara kaum marginal, khususnya para wanita transgender di sebuah pesantren waria di Yogyakarta.
Tonny Trimarsanto, sutradara film dokumenter ini, menghabiskan enam tahun untuk merekam cerita hidup komunitas transgender ini.
Baca Juga: Tren Make Up ‘Less is More’: Rayakan Kecantikan Alami dengan Produk Minimalis Ala Gen Z
Tonny membiarkan kamera mengabadikan peristiwa penting dalam hidupnya dari tahun 2016 hingga 2022.
Ia bukan hanya dokumentaris tetapi menjadi bagian penting dari komunitas, menciptakan hubungan yang nyata antara pembuat film dan karakternya.
Film ini adalah karya terakhir dia tentang waria, dan dia percaya bahwa stigma negatif terhadap kelompok minoritas ini masih belum diselesaikan.
Baca Juga: Angkat Tema Adat Sunda, The Panturas Sajikan Mini Album Berjudul ‘Galura Tropikalia’
Tonny Trimarsanto mengakui bahwa hingga saat ini, kaum transgender masih distigmatisasi. Dia berharap film ini dapat mengubah cara masyarakat melihat kelompok marginal ini.
Menurut Wahyu Utami, anggota Dewan Juri Akhir Kategori Film Dokumenter FFI 2024, "Under the Moonlight (Nur)" berhak atas Piala Citra karena memiliki narasi yang kuat dibandingkan dengan empat kandidat lainnya.
Tonny Trimarsanto dinilai mampu menangkap perspektif dan menarasikan suara kelompok minoritas dalam filmnya.
Baca Juga: Imunisasi PCV untuk Anak: Perlindungan Optimal untuk Pencegahan Pneumonia dan Stunting
Suksesnya Tonny dalam merepresentasikan kehidupan transpuan tanpa stigma menjadikan film ini begitu special.
Pengaruh "Under the Moonlight (Nur)" tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga meninggalkan kesan yang signifikan pada industri film Indonesia.
Film ini menunjukkan peran sinema dalam mengangkat suara-suara marginal dengan gaya dokumentaris yang unik dan emosi mendalam.
(Dinda Putri R)

