PEPO.id -- Pada tanggal 11 Januari 2008, Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat. Pukul 5 sore, kondisinya semakin memburuk.

Dokter yang merawatnya menyatakan bahwa kondisinya sangat kritis, dengan kesadaran menurun dan pernapasan yang memburuk. Beredar kabar bahwa Sang Jenderal Besar ini telah koma.

Wakil Presiden Yusuf Kalla dan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa pun datang menjenguk pada sore itu, membuat suasana di rumah sakit semakin heboh dan dipenuhi wartawan.

Baca Juga: El Rumi Kode Bakal Lamar Syifa Hadju? Eca Disebut Netizen Galau

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang saat itu berada di Malaysia, memutuskan untuk pulang lebih awal.

Kisah pada sore hari itu, tekanan darah dan tingkat kesadaran Soeharto menurun drastis. Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Dr. Marjo Subiandono, menjelaskan bahwa penurunan kesadaran yang dialami Pak Harto disebabkan oleh kegagalan multiorgan.

Dokter memasang ventilator untuk membantu pernapasannya.

Pukul 9.30 malam, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari membuat pernyataan mengejutkan bahwa kondisi Pak Harto sangat gawat.

Baca Juga: Gugup! Celine Evangelista Tampil Bareng Stefan William Lagi Di Publik Paska Cerai

Tubuhnya sudah dipasangi alat bantu ginjal, alat bantu jantung, dan berbagai obat-obatan. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan "kehidupan palsu" bagi Pak Harto, di mana organ-organ tubuh berfungsi dengan bantuan alat, namun pasiennya koma.

Pada tanggal 21 Mei 1998, Pak Harto mengakhiri kekuasaannya sebagai Presiden Republik Indonesia setelah 32 tahun menjabat.

Dalam pidatonya, Pak Harto menyatakan bahwa ia mengikuti perkembangan situasi nasional dan aspirasi rakyat untuk reformasi.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berhenti dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Setelah Pak Harto mundur, berbagai elemen masyarakat mulai menuntut pengusutan dan pengadilan atas mantan presiden tersebut.

Pada tanggal 1 September 1998, tim Kejaksaan Agung mengumumkan indikasi penggunaan uang yayasan di bawah pemerintahan Pak Harto.

Baca Juga: Rekomendasi Body Care buat Pemakai Strawberry Skin atau Chicken Skin, Kulit Super Kering Paling Ampuh

Pada tanggal 9 Desember 1998, Pak Harto diperiksa terkait dana yayasan, program mobil nasional, dan kekayaannya di luar negeri.

Majalah Time melansir berita tentang kekayaan Soeharto di luar negeri yang mencapai sekitar 15 miliar dolar Amerika Serikat.

Pada tahun 2007, Mahkamah Agung memenangkan gugatan Pak Harto terhadap majalah Time Asia.

Pada tanggal 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB, Pak Harto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pertamina Pusat setelah mengalami koma dan kegagalan multiorgan.

Dr. Marjo Subiandono mengatakan bahwa Pak Harto wafat dengan tenang. Presiden SBY menyatakan belasungkawa dan menetapkan tujuh hari berkabung nasional.

Jenazah Pak Harto dimakamkan di Astana Giri Bangun, dekat Solo, di samping makam istrinya, Siti Hartinah, pada tanggal 28 Januari 2008.

Upacara pemakaman dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Upacara militer digelar di Jungkup Argosari, ruang utama pemakaman Astana Giri Bangun.

Jenazah disambut oleh inspektur upacara, Presiden SBY, yang memberikan pidato penghormatan. Setelah upacara militer dan penaburan bunga, jenazah Pak Harto dimakamkan dengan penuh hormat.

Meskipun Pak Harto telah meninggal, demonstrasi yang menuntut agar ia diadili masih terjadi.

Sekitar 70 orang yang menamakan diri Kesatuan Rakyat Adili Soeharto (KERAS) menggelar demonstrasi di Tugu Proklamasi, Jakarta.

Itulah sekelumit kisah tentang hari-hari terakhir Pak Harto, dari masa sakit hingga pemakaman.