PEPO.id — Bupati Bogor Rudy Susmanto memanfaatkan momentum Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Tegar Beriman, Cibinong, sebagai sarana edukasi lingkungan dengan mengajak masyarakat mulai mengelola sampah dari rumah. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap persoalan sampah yang kian kompleks di Kabupaten Bogor.

Menurut Rudy, CFD tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik untuk olahraga dan rekreasi, tetapi juga menjadi media efektif untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.

Sejumlah kegiatan edukatif digelar dalam CFD tersebut, mulai dari karnaval daur ulang, kampanye pemilahan sampah, hingga praktik langsung pengolahan limbah rumah tangga. Berbagai komunitas dan pegiat lingkungan turut terlibat aktif dalam menyosialisasikan pentingnya perubahan perilaku masyarakat.

Baca Juga: Rudy Susmanto Akui Belum Penuhi Harapan, Sampaikan Permintaan Maaf di Hadapan Ribuan Jemaah Salat Id

Salah satu peserta karnaval, Ival, menilai kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mendorong kesadaran publik.

“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa sudah saatnya mulai memilah dan mengolah sampah sehari-hari agar memiliki nilai manfaat,” ujarnya.

Ia berharap gerakan ini dapat berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Bogor, bahkan mendorong terwujudnya konsep zero waste di masa depan.

“Semoga upaya ini membantu menyelesaikan persoalan sampah dan ke depan lingkungan kita bisa lebih bersih dan asri,” tambahnya.

Selain itu, kampanye lingkungan juga dilakukan melalui pendekatan sederhana yang melibatkan partisipasi langsung warga. Salah satunya program penukaran botol plastik bekas dengan souvenir, yang dinilai efektif membangun kebiasaan baru.

Baca Juga: Idulfitri 1447 H, Bupati Bogor Rudy Susmanto Serukan Semangat Ramadhan Terus Dijaga

Aktivis lingkungan, Bambang Nugroho, mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar masyarakat lebih mudah terlibat.

“Kami ingin mengajak warga peduli lingkungan lewat langkah sederhana, seperti menukar botol plastik bekas yang kemudian bisa didaur ulang,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi budaya baru dalam setiap penyelenggaraan CFD.

“Harapannya CFD tidak hanya jadi tempat olahraga, tapi juga ruang edukasi yang menumbuhkan kepedulian lingkungan,” katanya.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor turut memberikan edukasi teknis terkait pengolahan sampah organik. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah penggunaan maggot untuk mengurai limbah basah secara cepat.

Pendamping lingkungan wilayah Cibinong, Ahmad Danial, menjelaskan bahwa metode tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan pengomposan konvensional.

“Pengolahan sampah organik dengan maggot bisa lebih cepat, bahkan dalam hitungan jam sudah bisa diproses,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang saat ini telah melebihi kapasitas, sehingga diperlukan perubahan pola pengelolaan sampah dari hulu.

“Kesadaran masyarakat sangat penting, karena volume sampah di TPA Galuga sudah over capacity,” katanya.

Melalui pendekatan edukatif di CFD, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap masyarakat mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik dari rumah. Langkah ini dinilai menjadi kunci dalam mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.***