PEPO.id -- Serangan distributed denial-of-service (DDoS) menargetkan situs web dan server dengan mengganggu layanan jaringan.
Serangan DDoS mencoba untuk menghabiskan sumber daya aplikasi. Pelaku di balik serangan ini membanjiri situs dengan lalu lintas yang salah, sehingga fungsionalitas situs web menjadi buruk atau membuatnya offline sama sekali.
Belum banyak yang tahu bahwa DDoS menyerang situs-situs media online beberapa tahun ke belakang ini dan sangatlah masif.
Baca Juga: 13 Kuliner Khas Manado yang Terkenal Enak, Dijamin Gak Bakal Menyesal Deh
Dahulu, pemberedelan media massa di era Orde Baru (Orba) kerap kali terjadi. Terutama saat media yang bersangkutan memberitakan hal yang bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang dipimpin Soeharto pada masa itu.
Pembredelan media massa yang dilakukan berupa pelarangan penyiaran yang menghentikan penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa atau melawan hukum.
Jika tetap nekat memberitakan, kantor akan diserang atau penulis yang memberitakan tersebut hanya tinggal nama.
Baca Juga: Rendy Kjaernett Klarifikasi Soal Hubungannya Dengan Syahnaz Bikin Denny Sumargo Terkejut
Tapi kini zaman sudah berubah, pembredelan media di era digital lebih mengerikan lagi dengan cara yang senyap.
Caranya dengan apa? DDoS adalah cara 'Penguasa' yang tidak suka atau tersinggung oleh pemberitaan atau kritikan media.
Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) melibatkan penggunaan beberapa sistem yang disusupi, seringkali terinfeksi Trojan, untuk menargetkan satu sistem.
Susunan sistem yang dikompromikan membanjiri sumber daya atau bandwidth korban mereka, biasanya satu atau lebih server web, dalam upaya untuk membuat layanan online tidak tersedia bagi penggunanya.
Baca Juga: Resep Paru Goreng Serundeng Lezat dan Nikmat, Hidangan yang Cocok Disantap saat Makan Siang
Pernah ada sebuah survei terhadap manajer TI dari 270 organisasi Amerika Utara menemukan biaya rata-rata serangan DDoS adalah $40.000 per jam – 15% responden melaporkan biaya mereka di bawah $5.000 per jam, tetapi di sisi lain skala, 15% dari mereka yang disurvei menyatakan biaya di atas $100.000 per jam.
Atau jika dirupiahkan menyentuh angka Rp560 juta sampai Rp1,4 miliar rupuah per jamnya. Angka yang fantastis bukan?
Ratusan media online pernah down atau tumbang tidak dapat diakses setelah mengangkat isu Clara Shinta simpanan Polisi yang viral beberapa bulan lalu.
Sebut saja sederet portal media online down yang tidak dapat diakses karena memberitakan 'Penguasa Berseragam' itu seperti Pojoksatu.id, Riau Pos, Okezone dan ratusan media dari Promedia dan masih ada lagi ratusan media yang menjadi korban.
Atau berita yang memicu serangan DDoS situs Tempo yang memberitakan Ferdy Sambo resmi tersangka di bulan Agustus tahun 2022 lalu.
Diatas adalah secuil bukti bagaimana media-media online 'Dibredel' di era digital saat ini. Kembali ke DDoS tadi, para 'Penguasa' yang membungkam ratusan media online tentang pemberitaannya yang mengkritik atau menyinggung sangat meresahkan.
Baca Juga: Objek Wisata Populer di Gorontalo yang Wajib Dikunjungi, Keindahan Alamnya Gak Main-main
Kenapa meresahkan? Karena serangan DDoS tersebut sangat membuat rugi besar bagi para pemilik media online.
Mari kita beri contoh, situs media online mereka mendapatkan serangan 'traffic bodong' ratusan juta sampai miliaran pembaca bodong. Serangan tersebut membuat situs down dan tidak bisa dibuka.
Namun, bukan website down yang disasar para 'Penguasa' tersebut, melainkan ketika website diserang dengan traffic bodong tersebut, maka biaya server yang ditanggung oleh media online akan makin membengkak seiring dengan lamanya website media online tersebut diserang.
Maka jika misalnya media online yang tadinya membayar server Rp100 juta dalam satu bulan, di bulan ketika diserang DDoS, tagihan server bisa membengkak lebih dari 100 persen atau tak terhingga.
Hal itulah yang membuat para pelaku media online mau tidak mau harus menghapus pemberitaan yang menyinggung para 'Penguasa', daripada harus merugi besar karena tagihan server yang membengkak. Para penulis pun akhirnya harus mengalah.
Kira-kira seperti itu cara 'Penguasa' membungkam media online di era digital saat ini dengan cara DDoS. Tak peduli jasa serangan DDoS tersebut sangatlah mahal. Karena mereka memiliki uang tanpa batas. Lantas kemana media harus mengadu?




