PEPO.id — Pemerintah Kabupaten Bogor optimistis pembangunan akses jalan alternatif dari kawasan Taman Budaya menuju Puncak II dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di wilayah tersebut, terutama saat akhir pekan.
Proyek ini dinilai tidak hanya penting untuk memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga memiliki dampak strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitar.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto, menjelaskan bahwa seluruh tahapan pembangunan telah mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk penggunaan lahan cadangan efektif yang mengacu pada site plan tahun 2023.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kabupaten Bogor Dikuatkan, Rudy Susmanto Soroti Peran Identitas Daerah
“Pembangunan ini bertujuan untuk mempercepat akses masyarakat sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas,” ujarnya.
Ia menegaskan, perubahan perencanaan yang dilakukan merupakan bagian dari mekanisme perizinan resmi yang berada dalam kewenangan pemerintah daerah, sesuai regulasi penataan ruang yang berlaku.
Eko juga menjelaskan bahwa penyesuaian terhadap Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU), termasuk Ruang Terbuka Hijau (RTH), dimungkinkan selama tetap memenuhi ketentuan luas dan fungsi sebagaimana diatur.
“Yang terpenting adalah proporsi dan fungsinya tetap terjaga, meskipun lokasinya dapat disesuaikan,” jelasnya.
Selain aspek regulasi, kebutuhan akan akses alternatif juga datang dari masyarakat yang selama ini terdampak kemacetan di jalur utama, khususnya di ruas Jalan Siliwangi hingga MH Thamrin kawasan Sentul City.
Baca Juga: Menuju 2027, Rudy Susmanto Ajak Semua Elemen Bersatu Bangun Kabupaten Bogor
Sejumlah warga menilai kehadiran jalan baru ini akan sangat membantu mobilitas harian. Ketua RT di salah satu kawasan permukiman, Tata Djuarsa, menyebut kemacetan saat akhir pekan menjadi alasan utama warga mendukung proyek tersebut.
“Kalau akhir pekan, lalu lintas sangat padat. Jalan alternatif ini tentu akan membantu,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan warga lainnya, Debby, yang menilai pembangunan ini sebagai langkah maju selama telah melalui kajian dan perizinan yang jelas.
Di sisi lain, terdapat pula sebagian warga yang menyampaikan keberatan, terutama terkait penggunaan lahan yang sebelumnya dianggap sebagai ruang terbuka hijau. Namun demikian, dukungan dari masyarakat luas tetap mengalir, khususnya dari wilayah sekitar yang merasakan langsung dampak kemacetan.
Pihak Sentul City juga menyatakan komitmennya dalam mendukung program pemerintah daerah, termasuk penyediaan lahan untuk pembangunan akses jalan tersebut.***



