PEPO.id - Seorang mantan sopir travel bernama Bang Edoy pernah mengalami pengalaman mengenaskan saat mengangkut penumpang yang meninggal di tengah perjalanan.
Bang Edoy yang saat itu bekerja sebagai sopir tur paruh waktu menceritakan kejadian mengenaskan tersebut.
Suatu hari, bos travelnya menghubunginya untuk mengantar pelanggan ke Jampang Kulon di Surade, Jawa Barat.
Meski Bang Edoy tidak bekerja setiap hari, namun ia bersedia menerima pekerjaan itu. Dia memulai perjalanannya pada suatu hari Kamis dengan seorang pelanggan pria.
Baca Juga: 7 Inspirasi OOTD Hijab Nonton Konser, Bikin Outfit Kalian Makin Enak Dipandang
Sesampainya di rumah pelanggan, Bang Edoy kaget melihat pelanggan itu menggendong istrinya yang dalam kondisi kritis di punggungnya dan menggunakan selang oksigen dan infus. Sesampainya Bang Edoy di sana, kondisi istrinya sangat memprihatinkan, hampir sekarat.
Ternyata pelanggan tersebut memesan perjalanan tersebut bukan untuk berlibur, melainkan sebagai alternatif yang lebih hemat dibandingkan menyewa ambulans yang mahal. Mereka mencari cara untuk memanfaatkan layanan perjalanan tanpa mengungkapkan situasi sebenarnya kepada agen perjalanan.
Bang Edoy tidak bisa menolak karena pelanggan sudah melunasi biaya jasa perjalanannya. Keduanya kemudian memulai perjalanan menuju Sukabumi yang diperkirakan memakan waktu sekitar 6 jam.
Baca Juga: Kisah Mistis Rumah Sakit Terbengkalai di Jember, Ada YouTuber Mencium Aroma Busuk dan Sosok Ini
Selama perjalanan, Bang Edoy mencoba bertanya kepada pelanggan tentang penyakit yang diderita oleh istrinya, tetapi pelanggan tersebut enggan memberikan informasi lebih lanjut.
Ketika mereka mencapai Km 29 Tol Jagorawi, radiator mobil tiba-tiba overheat, dan rem mobil mengeras secara tiba-tiba, seolah-olah mesinnya telah sangat panas.
Bang Edoy berusaha memperbaiki mobilnya, dan akhirnya berhasil mengembalikan keadaan mobil ke kondisi normal, meskipun masih ada ketidaknormalan dalam kinerja mobil tersebut.
Di tengah perjalanan, istrinya pelanggan tiba-tiba berteriak histeris, menciptakan momen ketegangan yang menegangkan.
Baca Juga: Kumpulan OOTD Hijab Kasual, Tak Perlu Bingung Lagi Soal Memilih Outfit yang Bagus
Anehnya, sang suami justru menggebrak bangku dengan maksud meminta agar istrinya (pasien sakit) ini untuk segera diam.
Edoy heran, merasa seharusnya sebagai sesama manusia apalagi keluarga sendiri tidak sebaiknya bersikap seperti itu.
"Lu mau tau bang? Nggak lama dari teriak itu ban (mobil travel) gue pecah. duarr, kencang banget bang, gue coba banting setir ke kiri dong bang, yang meledak itu ban belakang sebelah kiri. Istrinya ini udah kayak kegoyang-goyang gitu bang karena enggak diikat bang kayak yang seadanya doang bangku dilipat," papar Edoy.
"Itu yang gue pikirin bukan ban-nya bang, tapi gue buka pintu belakang langsung nyelametin istrinya itu. Apa suaminya turun? Enggak bang, gila, lakinya enggak turun sama sekali dan dia malah nanya 'mau ngapain?', ya gue bilang ini istri lo udah beda posisi gitu bang," sambungnya.
Baca Juga: IPB 60 tahun, Alumni Gelar Kegiatan Fun Riding Kampus Sepanjang 60 KM
Singkat cerita, Edoy melanjutkan perjalanan lagi setelah membenahi ban mobilnya yang pecah mendadak.
Namun beberapa saat setelahnya, sekitar 30 menit kemudian, customernya meminta untuk berhenti.
Akhirnya Edoy pun berhenti lagi, kali ini di kawasan Cikidang, Sukabumi yang mana kanan-kiri jalannya sudah dipenuhi oleh pohon sawit.
Bukannya buang air kecil, customernya justru keluar dan menggali lubang di tanah sambil mengeluarkan tali berwarna putih. Di situ Edoy melihatnya dengan jelas karena ia sedang kencing di dekatnya.
Baca Juga: Rekomendasi Parfum Wanita Terbaik 2023, Dijamin Tahan Lama dan Aromanya Menarik Perhatian
Saat perjalanan dilanjut, customernya ini memberitahu ke Edoy bahwa istrinya sudah tidak ada alias meninggal dunia di tengah perjalanan.
Edoy merasa takut, apalagi sang customer memberitahukan info bahwa istrinya sudah tiada saat jalanan sepi dan mencekam.
Edoy kemudian bergegas mengendarai mobilnya lagi untuk balik, tapi di tengah jalan ia melihat sosok almarhumah dari kaca spion di dalam sedang duduk di belakang mobil travelnya.
Ia pun berhenti di sebuah warung kopi (warkop) yang ada di pinggir jalan, dipesanlah satu kopi tapi yang datang kopi dan juga segelas teh.
"Enggak tadi itu si ibu mesen teh dari dalam mobil," sahut penjual warkop.***

