PEPO.id - Konflik antara Israel dan Hamas Palestina kembali memanas. Selama akhir pekan, kedua belah pihak terlibat dalam perang dahsyat di Jalur Gaza. Perang tersebut mengakibatkan kematian lebih dari 1.600 orang.

Dalam serangan mendadak dan berskala besar ini, angkatan bersenjata Hamas Palestina berhasil maju ke beberapa wilayah sasaran di Israel.

Hamas, kelompok militan, dikenal gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Selama perang ini, militan Hamas bahkan menggunakan parasut untuk memasuki Israel.

Baca Juga: Geram Dituduh Jadi Mualaf, Ghea Indrawari: Menurut Saya Itu Tidak Penting

Lantas siapakah kelompok bersenjata Hamas Palestina yang menyerang Israel?

Hamas adalah akronim dari Ḥarakah al-Muqāwamah al-ʾIslāmiyyah atau dapat diartikan secara harfiah sebagai Gerakan Perlawanan Islam. Dalam bahasa Arab, Hamas juga dapat diartikan sebagai "zeal" atau "semangat".

 

Hamas didirikan pada tahun 1987 oleh seorang imam bernama Sheikh Ahmed Yazin dan asistennya Abdul Aziz al-Rantisi -Rantissi) didirikan di Jalur Gaza.

Hamas didirikan tak lama setelah pemberontakan, pemberontakan melawan pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Gerakan militan Hamas dimulai sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir, yang membentuk sayap militer yang disebut Brigade Izzeddin Al-Qassam.

Baca Juga: Koleksi Parfum Artis Indonesia, Wanginya Bikin Percaya Diri Makin Meningkat dan Segar Sepanjang Hari

Gerakan ini bertujuan untuk melancarkan perjuangan bersenjata melawan Israel. Tujuan utama gerakan ini tentu saja adalah pembebasan wilayah Palestina dari Israel.

Meski demikian, tujuan besar pembebasan Palestina justru mendapat perlawanan dari negara-negara Barat. Hamas dicap sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Jepang, bahkan Mesir karena sikap politis dan cara-caranya dalam mencapai tujuan.

Dalam mencapai tujuannya, Hamas kerap kali melancarkan serangan terhadap tentara, bahkan warga sipil Israel. Serangan pun dilakukan baik di wilayah Palestina yang terjajah, maupun di wilayah kedaulatan Israel.

Secara politis, Hamas bergerak secara aktif oleh lebih dari dua juta penduduk Palestina. Namun, rakyat di Jalur Gaza tidak dapat mendapatkan akses menuju teritori Palestina lain, karena blokade yang dilakukan oleh Israel.

Baca Juga: Kisah Horor Sosok Putih di Asrama Tua, Wujudnya Menyeramkan Dengan Mulut Terbuka Lebar

Hamas telah berkuasa di Jalur Gaza sejak 2007 silam usai perang singkat melawan pasukan Fatah. Saat itu, pasukan Fatah berada di bawah kekuasaan Presiden Mahmoud Abbas, pemimpin Palestinian Authority and Palestine Liberation Organization (PLO).

Berbeda dengan PLO, Hamas tidak mengaku kedaulatan negara Israel namun menerima status negara Palestina berdasarkan penetapan wilayah dan batas negara tahun 1967.

Secara tegas, Hamas menentang perjanjian perdamaian Oslo yang melibatkan Israel dan PLO pada pertengahan 1990-an lalu. Kelompok ini secara resmi berkomitmen untuk mendirikan negara Palestina dalam batas-batasnya sendiri.

Atas perjuangannya membebaskan Palestina, Hamas mendapatkan dukungan dari beberapa organisasi serupa di wilayah Timur Tengah yang mencakup Iran, Suriah, serta kelompok perjuangan Hizbullah di Lebanon.

Baca Juga: 9 Parfum Artis Hollywood, Wanginya Serasa Menjadi Selebriti Internasional

Rupanya, Hamas cs memiliki tujuan dan visi yang sama, yaitu menentang kebijakan Amerika Serikat terhadap wilayah Timur Tengah dan Israel.

Tak hanya mendapat dukungan, Hamas juga kerap kali beraliansi dengan kelompok Jihad Islam, yakni organisasi militan bersenjata kedua terbesar di wilayah Timur Tengah.

Kelompok Jihad Islam mendukung penuh Hamas untuk melakukan aktivitas militer di Jalur Gaza.***