PEPO.id - Ini adalah hari ketiga saya dan teman-teman kuliah saya datang ke desa kerja nyata di bagian terpencil Jawa Tengah.
Hutan hijau desa ini membuat hidup saya terasa damai. Kehidupan di desa ini sangat berbeda dengan hiruk pikuk kota metropolitan.
Selama tiga hari, tim KKN dan saya sibuk berkeliling desa. Kami ingin memahami banyak hal dan mulai merancang proyek untuk memajukan desa.
Namun, apa yang saya temukan di sini aneh. Desa kecil itu tampaknya terbagi menjadi dua. Di Barat, hanya ada ayah dan anak laki-lakinya di rumah.
Sedangkan di Timur hanya ada ibu dan anak perempuannya. Rumah walikota terletak di tengah, menandai garis tengah desa.
Uniknya, sang kepala desa, Egan, adalah seorang janda muda namun berprestasi. Meski baru berusia 28 tahun, ia sudah menjadi kepala desa.
Dia menjadi warga lokal yang sangat dekat denganku. Tiap hari aku diminta ke rumahnya untuk mengambil makanan yang nantinya diberikan oleh kelompok KKN-ku.
Pada suatu hari, aku datang ke rumah Bu Lurah Ine, tetapi rumahnya kosong. Ku panggil-panggil namanya dan baru menyahut setelah beberapa kali aku teriak.
Baca Juga: Destinasi Wisata Hits di Sorong Papua, Bikin Liburan Bersama Keluarga Makin Berkesan
“Iya, bentar, Mas. Aku lagi mandi. Tunggu dulu di ruang tamu,” kata Ine.
Aku pun membuka pintu, benar saja, pintu depan tidak terkunci. Tidak lama kemudian, Ine melongok ke ruang tamu dengan hanya memakai handuk.
“Makanannya sudah siap, Mas, tunggu, ya,” katanya.
Aku hanya dibuatnya melongo. Tak kusangka Bu Ine yang tadinya terlihat biasa saja kini menjadi seperti bidadari di mataku.
Baca Juga: Dewi Perssik Skakmat Saipul Jamil Usai Disebut Tidak Perawan saat Menikah: Hati-hati Guys
Makin hari aku makin dekat dengan Bu Ine, dia bahkan sudah memintaku untuk tidak memanggilnya dengan ‘bu’ lagi.
Katanya, biar akrab. Aku pun makin senang. Kadang kala aku berlama-lama di rumahnya. Kami mengobrol dengan akrab.
Singkatnya, aku dan Bu Ine saling mengakui bahwa kami saling suka. Akan tetapi, masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan ke Ine. Dia terlihat aneh ketika mengobrol denganku pada malam hari.
Setiap kali aku mengobrol dengannya, matanya tidak melihatku, tetapi justru ke belakangku. Seolah, ada sosok lain di belakangku.
Baca Juga: Objek Wisata Populer di Sorong Papua, Cocok untuk Dijadikan Tempat Healing
Namun, belum sempat aku bertanya soal hal itu, seorang penduduk desa yang tua renta mendekatiku.
“Nak, hati-hati dengan Bu Lurah. Dia bukan mengincar kami, tetapi sosok yang di dekatmu. Jika kamu terlena, bisa berbahaya,” katanya.
Aku merinding dibuatnya. Dengkul rasanya lemas. Mengapa dia bisa tahu? Ah, sudahlah, aku tak ingin berburuk sangka.
Aku lanjutkan langkah kakiku ke rumah Ine. Malam itu, seperti biasa aku membuka pintu depan rumahnya.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Ketan Serundeng, Jajanan Tradisional Dengan Rasa Gurih dan Manis
Namun, secara mengejutkan, Ine langsung menubrukku. Dia lalu memaksaku untuk melakukan begituan. Aku yang diliputi rasa bingung dan ingin pun mengiyakan.
“Jadi, itu cerita legenda di desa ini. Sejak saat itu, laki-laki dan wanita di desa ini tidak lagi memisahkan diri. Semua boleh hidup di satu rumah yang sama, syaratnya hanya sudah menikah,” kata Andri, seorang kepala desa yang menyambut tim KKN kami.
Kisah itu pula yang membuat aku dan tim KKN memilih desa ini menjadi tempat berbakti. Sebab, desa ini punya kisah mistis yang layak untuk disebarluaskan. Bahkan, desa ini bisa menjadi wisata kuliner yang menarik.
Ada satu mitos menarik. Bagi orang luar desa tersebut dan berani tinggal di rumah kepala desa, akan bisa bertemu dengan sosok Bu Ine dan Mahasiwa KKN itu di depan rumah saung desa.
Hal itu yang ingin kami kembangkan menjadi wisata mistis dengan bumbu-bumbu tantangan.***

