PEPO.id - Gegara di kamar hotel yang salah Aku selingkuh dengan janda muda Kantor belakangan ini sibuk.

Ini terjadi karena ada masalah di kantor cabang di Semarang, Jawa Tengah.

"Kamu persiapkan semua, selesaikan masalah yang ada di kantor cabang. Jangan pulang sebelum selesai," kata bosku. 

Tak ada jawaban lain, selain "siap laksanakan". 

Baca Juga: Wisata Kuliner Pati Populer yang Bisa Coba, Selalu Ramai Dikunjungi Wisatawan

Setelah semua persiapan selesai, aku pun langsung berangkat menuju Stasiun Senen, Jakarta. 

Sesampainya di Semarang, aku di jemput supir kantorku yang bernama Roki. 

"Selamat datang di Semarang mas Prakas," sambut Roki. 

"Terima kasih. Sebelum ke hotel, kita cari makan dulu ya?" jawabku. 

 

Roki langsung mengajakku ke sebuah warung makan di pusat kota Semarang.

Baca Juga: Ekspresi Tiara Andini Sedih Usai Ziva Magnolya Sebut Ingin Punya Keponakan: Ayo Bikin Anak

Selain lumpia, salah satu kuliner yang tidak boleh dilewatkan di Semarang adalah babat gongsu.

Usai makan malam, Roki langsung mengantarku ke hotel.

Singkat cerita, sesampainya di kamar hotel, saya langsung mandi untuk membersihkan diri.

Setelah mandi, saya baru ingat kalau rokok saya sudah habis. Saya juga pergi keluar untuk membeli rokok.

Saat hendak membayar, ternyata dompetku tertinggal di saku celana yang baru saja kukenakan.

Tak hanya dompet, kunci kamar hotel pun juga ketinggalan di celana. 

Rokok tak jadi terbeli, aku pun langsung menuju ke kamar. 

Baca Juga: Kuliner Pati Terbaik yang Cocok untuk Dijadikan Tempat Buka Puasa Bersama

Sialnya, aku lupa berapa nomor kamar hotel yang aku tempati. 

"Kamar 122 apa 123 ya," kataku dalam hati. 

Saat sampai, aku melihat pintu kamar 122 terbuka sedikit. 

Aku pun langsung masuk, karena aku yakin itu adalah kamar hotelku. 

Setelah masuk, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil dompet di celana. 

Saat membuka pintu kamar mandi, aku melihat seorang perempuan sedang mandi. 

Perempuan tersebut sangat kaget dan mendadak berteriak sangat kencang. 

"Siapa kamu? Keluar!" teriaknya. 

Ternyata, aku salah memasuki kamar hotel. 

Baca Juga: Nathalie Holscher Tolak Ajakan Nikah Faris, Kode Ingin Rujuk Kembali Dengan Sule

Merasa bersalah, aku menunggu perempuan tersebut di depan pintu kamarnya. 

"Maaf, aku nggak bermaksud untuk mengintip. Aku salah masuk kamar, kamarku di sebelah, nomor 123," jelasku. 

Meskipun sempat terlihat marah, perempuan tersebut mau memaafkan aku. 

Setelah kejadian tersebut, aku mengajak perempuan tersebut untuk makan malam di restoran hotel. 

Perempuan tersebut ternyata bernama Diva, sudah seminggu ini dia tinggal di Semarang. 

Singkat cerita, setelah tragedi salah masuk kamar itu, hubungan kami berdua makin dekat. 

Hampir setiap malam kami selalu makan malam bersama, bahkan kami juga sempat mabuk bersama. 

Baca Juga: 10 Kuliner Legendaris Pati yang Wajib Dicoba, Soal Rasa Gak Perli Diragukan

Saat itu, Diva tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum. Aku pun mengantarkan Diva di kamar hotelnya. 

Sesampainya di kamar, Diva bangun dan memintaku untuk tetap tinggal. 

"Di sini aja, aku butuh kamu," katanya. 

Tanpa sadar, Diva sudah melepaskan semua bajunya. 

"Malam ini, aku milikmu mas," kata Diva. 

Mendengar hal itu, aku pun langsung melepas semua baju dan celanaku. 

Malam itu, keringat kami saling bertukar mesra. 

Suara ranjang berdenyit mengiringi gerakan tubuh Diva. 

Baca Juga: Alshad Ahmad Lebih Pilih Liburan ke Afrika Dibandingkan Klarifikasi Soal Perceraian Dengan Nissa Asyifa

Entah apa yang ada di pikiranku, yang aku tahu, ada janda muda yang menyerahkan seluruh tubuhnya untukku. 

Setelah melepas keringat bersama Diva di ranjang, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Pasalnya, pagi harinya aku harus pulang ke Jakarta. 

Ya, semua urusan pekerjaan di kantor cabang Semarang sudah aku selesaikan. 

Pertempuran bersama Diva, menjadi pesta perpisahan yang sangat menyenangkan. 

Aku sengaja tak berpamitan pada Diva, karena aku takut hubunganku dengannya berjalan terlalu jauh. 

Aku tahu, yang aku lakukan pada Diva adalah tindakan yang jahat. 

Namun, aku tak ingin melepas istri dan anakku yang ada di Jakarta, demi seorang janda seperti Diva. Maafkan aku, Diva.***