PEPO.id - Nama saya Rana. Saya pindah dengan saudara perempuan saya Nila dan suaminya Roy. Hidup dengan kakak ipar bukanlah tugas yang mudah.
Perasaan ini saya rasakan sekitar enam bulan setelah pindah ke Jakarta.
Adik saya adalah seorang karyawan di sebuah pabrik tekstil. Dan suaminya hanya pekerja lepas, sering di rumah.
Karena pandemi covid-19, saya hanya menghadiri webinar sekarang.
Baca Juga: Profil Lengkap Brisia Jodie, Penyanyi yang Tiba-tiba Menangis Usai Manggung Bersama Tiara Andini
Tidak hanya itu, saya juga sering membantu kakak ipar saya untuk mengerjakan sesuatu. Awalnya, saya senang membantunya dalam pekerjaannya, tetapi sesuatu yang aneh terjadi di antara kami.
Adik ipar menanyakan sesuatu yang saya tidak mengerti. Ketika dia mendekati saya, dia mencoba meraih tangan saya.
"Dek, sini, deh. Abang mau minta tolong sama kamu," ujarnya seraya meraih tanganku.
Saya terkejut dengan apa yang terjadi dan mencoba mendengarkan permintaannya. Namun, aku tidak bisa dekat dengannya.
Baca Juga: Objek Wisata Hits di Kupang, Keindahan Alamnya Dijamin Bikin Susah Move On
"Iya ada apa, Bang?" tanyaku lantas aku sedikit menjaga jarak.
"Abang lagi kesulitan dengan Nira. Dia belum lama ini enggak bisa Abang sentuh," katanya.
Mendengar pertanyaan tersebut, saya bingung dan tidak tahu apa yang diinginkan oleh ipar saya.
Kemudian saya bertanya kepadanya apa yang harus dilakukan.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Ayam Goreng Kalasan, Cita Rasa Manis dan Kaya Rempah
"Bang Roy ada masalah sama kakak? Aku bisa bantu apa?" tanyaku. Roy lantas kembali mendekatiku sambil tangannya merangkul pundak.
Dia kali ini terlihat mencoba lebih tenang ketika berbicara padaku.
Akan tetapi, aku seketika dibuatnya terpaku akibat nada suaranya yang aneh. Dia bahkan mengatakan hal yang tidak bisa aku percaya.
Dengan tubuhnya yang sudah sangat dekat, dia menyatakan cinta padaku.
Baca Juga: Destinasi Wisata Populer di Kupang, Jadi Tempat Favorit Wisatawan Lokal dan Mancanegara
"Dek, sebenarnya Abang suka sama kamu. Kalau kamu suka enggak sama aku?" katanya.
Aku yang merasa canggung pun tidak bisa berkata apa pun. Aku hanya dapat melihat ke arah bawah karena takut memandangnya.
"Bang, aku ini adiknya Kak Nira, adik ipar Bang Roy juga," ucapku sambil bergetar.
"Iya, abang tahu, kok. Namun, bagaimana ya, Dek? Abang juga sayang sama Kak Nira dan kamu," sahut Bang Roy.
Entah apa yang ada di pikiranku waktu itu, aku hanya bisa diam mendengar pernyataan tersebut.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Gudeg Mercon, Hidangan Khas Yogyakarta Dengan Cita Rasa Pedas
Aku pun sebenarnya menyukai kakak iparku dari pertama kenal sebagai suami Kak Nira. Tak hanya itu, aku pun kerap membayangkan hidup bersama Roy sebagai pasangan.
Namun, selalu terhalang atas status kami berdua.
"Aku enggak tahu ini benar atau salah, perasaanku juga tidak dapat berbohong jika menyukai Abang. Namun, aku hanyalah seorang adik," jawabku memecah keheningan.
Roy kemudian meyakinkanku bahwa kami dapat menjalani hubungan kekasih selama sepakat untuk diam.
"Kita bisa berhubungan asalkan kamu diam-diam saja. Jangan kasih tahu kakakmu, apalagi ke orang lain," ujarnya menenangkan aku.
Aku tak tahu, setan apa yang sedang merasuki pikiranku karena aku setuju dengan perkataan kakak iparku itu. Kami pun akhirnya benar-benar menyembunyikan rahasia ini dari Kak Nira.
Aku bahkan sudah menjalani hubungan terlarang itu berjalan dua bulan, tanpa sepengetahuan dari siapa pun. Aku dan kakak iparku pun kerap berpacaran saat Kak Nira pergi bekerja.***

