PEPO.id - Ini adalah kisah saya dan seorang pria bernama Jonny. Ketika saya pertama kali bertemu dengannya, Jonny adalah pria yang baik hati, perhatian, dan sabar.

Namun, itu di masa lalu. Semuanya telah berubah sekarang. Semuanya seperti bumi dan langit.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan kepercayaan yang telah saya bangun selama ini. Setelah berpacaran selama dua tahun, ternyata ia berselingkuh.

Bahkan, saya sudah menganggapnya sebagai belahan jiwa. Nasib mengatakan sebaliknya. Saya pikir saya orang pertama dan terakhir dalam hidupnya.

Baca Juga: Resep Kue Keju yang Bisa Dicoba di Rumah, Camilan Populer saat Hari Raya Idul Fitri

Pada ulang tahun kedua kami, saya mulai meragukannya. bagaimana bisa.

Waktu itu Joni meminta izin untuk menenangkan diri ke Puncak, Bogor. Dia sendirian.

"Yang, aku ada masalah. Nanti aku telepon kamu. Pukul 18.00 aku pulang, saat ini lagi di Puncak," kata Joni saat menghubungiku melalui WhatsApp.

"Sayang, kamu nggak kenapa-kenapa? Aku khawatir. Cepat pulih, ya. Aku sayang kamu," jawabku.

Baca Juga: Resep Kue Lidah Kucing Manis dan Renyah, Camilan Populer yang Kini Bisa Dibuat Sendiri di Rumah

 

Tinggal di rumah saya hanya bisa berharap dan khawatir. Saya pikir dia sendirian dan punya masalah.

Itu cukup sering terjadi. Terkadang dia menyuruhku untuk tidak bergaul dengan teman-temannya. Dia juga terkadang membuat saya melakukan hal-hal yang biasanya tidak saya lakukan.

Dua tahun dalam hubungan kami, Jonny tiba-tiba mengakhiri semuanya karena alasan klasik.

"Aku takut menyakiti kamu. Kamu terlalu baik," kata dia.

Aku tentunya tidak terima dengan keputusan sepihak itu. Aku sangat marah, tetapi dia mengabaikanku.

Baca Juga: Ifa Faizah Rohmah Pamerkan Produk Kreatif Santri, Airlangga Hartarto Dibuat Terpesona

Aku justru melihat dia sedang asyik bersama teman-temannya. Pada akhirnya, aku mengiyakan keinginan Joni.

Setelah dua bulan kami berpisah tanpa kabar, temanku mengirimku sebuah foto.

Dalam foto itu Joni tampak berpose bersama seorang wanita. Aku tidak tahu siapa wanita itu. Aku sangat terkejut saat melihat caption di Instagram-nya.

Hatiku remuk redam. Badanku lemas. Aku seperti tidak memiliki tenaga.

"Dear, love. Dua bulan bersama. Indah banget rasanya bersama kamu. Terima kasih, sayang, dari 17 Desember 2017," begitu bunyi caption di Instagram-nya.

Hatiku hancur berkeping-keping. Aku tidak percaya semua ini dan ingin mengakhiri hidup. Sejenak aku berpikir indahnya kebersamaan kami dulu, apalagi Joni adalah orang yang menyayangi dan memanjakanku.

Baca Juga: Makanan Hits Bojonegoro, Cita Rasa Lezat nan Ciamik dan Sulit untuk Dilupakan

Aku sudah terbiasa dengan sikap dia. Itulah yang membuatku hancur berkeping-keping.

Hubungan mereka ternyata sudah berlangsung selama dua bulan sebelum kami putus.

Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tahun ketiga aku putus dengan Joni.

Tiga tahun aku berpisah dengan Joni, diriku belum bisa melupakannya. Padahal aku sudah bersama dengan kekasihku yang jauh lebih baik darinya.

Joni dan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan. Aku rasanya hancur kedua kali. Beruntungnya saat ini sudah ada kekasihku.

Di satu sisi aku sangat merasa bersalah kepadanya karena belakangan ini emosiku tidak stabil karena perempuan itu.

Aku selalu marah-marah bahkan tidak ada tujuan atas kemarahanku ini. Saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memendam rasa sedih ini sendirian.***