PEPO.ID - Kisah pertemuan terakhir Soekarno dan Mohammad Hatta di RSUD Gatot Subroto amat mengharukan. Banyak yang tidak tahu kisah haru tersebut.
Di penghujung hayatnya, Soekarno dan Mohammad Hatta memiliki pertemuan terakhir yang mengharukan. Kisah tersebut tercatat dalam sejarah tapi tidak begitu dikenang.
Karena itu, mari kita simak kisah pertemuan terakhir antara Soekarno dan Mohammad Hatta di RSUD Gatot Subroto yang begitu mengharukan.
Pertemuan terakhir antara Soekarno dan Mohammad Hatta, dua tokoh besar dalam sejarah Republik Indonesia, menjadi sebuah kisah yang penuh emosi dan keharuan.
Momen tersebut terjadi di RSUD Gatot Soebroto, Jakarta, pada 11 Juni 1970.
Soekarno, pada saat itu, sedang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut akibat kondisi kesehatannya yang semakin merosot.
Kesehatan Presiden pertama Republik Indonesia ini semakin menurun setelah dia menjadi tahanan politik di bawah pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto selama 32 tahun.
Sementara itu, Mohammad Hatta, sahabat lama Soekarno, menyempatkan waktu untuk menjenguk temannya yang tengah sakit parah.
Saat tiba di RSUD Gatot Soebroto, Hatta melihat Soekarno, sang Proklamator Kemerdekaan, yang telah sangat lemah akibat penyakit yang telah lama dideritanya.
Terdapat sebuah video di media sosial yang menggambarkan momen mengharukan ini.
Dalam video yang beredar luas di TikTok, terlihat momen dimana Soekarno yang terbaring lemah sambil memanggil Hatta yang berada di sisinya.
Suara Soekarno terdengar sangat lemah, mencerminkan betapa buruknya kondisinya saat itu.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Ayam Bakar Madu, Bumbunya Meresap Sampai ke Tulang
Lalu, Soekarno meraih tangan Hatta, seolah memberi isyarat bahwa dia akan meninggalkan sahabat lamanya untuk selama-lamanya.
Mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Soekarno, air mata mulai mengalir dari mata Mohammad Hatta. Dia kemudian bertanya tentang kesehatan Soekarno.
Percakapan ini secara mendalam mengungkapkan betapa besar rasa rindu dan kasih sayang yang mereka miliki satu sama lain.
Namun, keduanya harus berpisah setelah Mohammad Hatta memutuskan untuk meninggalkan pemerintahan Soekarno akibat perbedaan pandangan politik yang mereka miliki.
Setelah percakapan ini, Soekarno mulai menangis. Hatta memegang tangan Soekarno dengan penuh kelembutan, dan bahkan mulai memijat kaki Soekarno dengan lembut.
Pada akhirnya, pada tanggal 21 Juni 1970, setelah pertemuan terakhirnya dengan Mohammad Hatta, Soekarno meninggal dunia pada usia 69 tahun.
Jenazah sang Proklamator Kemerdekaan ini kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, tempat kelahirannya.
Sebagai informasi tambahan, Mohammad Hatta juga meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Mereka berdua, walau terpisah oleh perbedaan politik, tetap meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah Indonesia yang tak akan pernah terlupakan.
Kisah pertemuan terakhir Soekarno dan Hatta di RSUD Gatot Subroto mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan menghormati perjuangan para pendiri negara kita.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Cumi Balado, Cocok untuk Dijadikan Menu di Rumah
Kedua tokoh ini telah mengabdikan diri sepenuh hati untuk Indonesia, dan mereka meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah bangsa.
Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai dan semangat perjuangan yang mereka wariskan kepada kita.
Kisah ini juga mengajarkan kita tentang arti sejati dari kepemimpinan dan pengabdian kepada negara.
Soekarno dan Hatta adalah contoh nyata pemimpin yang berani menghadapi tantangan dan bertindak untuk kebaikan bersama.
Dalam mengakhiri cerita ini, kita dapat mengambil inspirasi dari kisah pertemuan terakhir Soekarno dan Hatta di RSUD Gatot Subroto.
Mereka adalah dua tokoh yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, dan kisah hidup mereka adalah sumber inspirasi bagi kita semua.
Mereka mengajarkan kita tentang arti sejati dari kepemimpinan, pengabdian, dan persatuan dalam keragaman.
Semoga kita dapat menjaga semangat perjuangan mereka hidup dan terus berkontribusi untuk kemajuan dan persatuan Indonesia.
