PEPO.ID - Indonesia rupanya pernah memiliki presiden darurat. Namun, tidak banyak yang tahu mengenai kisah seorang Sjafruddin Prawiranegara, seorang presiden darurat Indonesia.

Seperti biasa, ketika membicarakan Indonesia, hanya ada tujuh nama presiden yang dikenal. Setiap orang telah melupakan presiden darurat Indonesia yang bernama Sjafruddin Prawiranegara.

Di antaranya Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo. Ini adalah ketujuh tokoh yang pernah memimpin Republik Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Tidak Dijajah 350 Tahun, Simak Kisah Awal Mula Kedatangan Belanda, Ulah VOC, dan Kemerdekaan 1945

Namun, sebenarnya, sejarah Indonesia memiliki cerita yang lebih dalam. Banyak tokoh nasional yang memainkan peran penting dalam perjuangan politik, termasuk Sjafruddin Prawiranegara sebagai presiden darurat. 

Sjafruddin Prawiranegara adalah salah satu pendiri Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau yang juga dikenal sebagai PDRI.

Sjafruddin Prawiranegara memimpin PDRI di Bukit Tinggi sejak 22 Desember 1948. Mari simak kisah lengkap Sjafruddin Prawiranegara yang merupakan seorang Presiden Darurat Republik Indonesia yang terlupakan.

Baca Juga: Deretan 7 Kisah Pahlawan Wanita Indonesia yang Tangguh, Punya Perjuangan yang Menginspirasi Banyak Orang

Ketika itu, tugas Sjafruddin adalah mendirikan pemerintahan darurat ini. Belanda saat itu tengah melakukan upaya agresi militer kedua terhadap Republik Indonesia.

Ibu Kota, Yogyakarta, menjadi sasaran utama Belanda, yang berupaya merebutnya. Selain itu, Belanda juga berhasil menangkap tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, Hatta, dan beberapa anggota kabinet pemerintahan resmi lainnya.

Maka dari itu, Sjafruddin Prawiranegara, meski hanya sementara, menjadi Presiden Darurat Indonesia mulai tanggal 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.

Baca Juga: Kisah Sultan Hasanuddin, Dijuluki Ayam Jantan dari Timur yang Ditakuti VOC Penjajah Belanda, Punya Ilmu Kebal?

Tindakan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih eksis, tetap merdeka, dan tidak akan kembali tunduk pada penjajahan.

Melalui usaha Pemerintahan Darurat yang dipimpin oleh Sjafruddin, pemerintahan Indonesia berhasil mendorong Belanda untuk bernegosiasi, dan akhirnya perjanjian Roem-Royen tercapai.

Mengakhiri upaya Belanda untuk memulihkan penguasaannya atas Indonesia, serta membebaskan Soekarno dan rekan-rekannya pada tanggal 13 Juli 1949.

Baca Juga: Sejarah Perang Jawa, Makna, Penyebab, dan Strategi Pangeran Diponegoro dalam Melawan Penjajah Belanda

Kemudian, pada tanggal 14 Juli 1949, PDRI berunding dengan Soekarno. Hasilnya adalah pengembalian pemerintahan Indonesia ke tangan Soekarno.

Sebagai hasil dari perundingan tersebut, Sjafruddin melepaskan jabatannya sebagai Presiden Darurat dan kemudian diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri di era Soekarno, yang juga mempercayakan padanya jabatan Menteri Keuangan.

Namun, perjalanan karier Sjafruddin tidak berhenti di situ. Dia juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Javasche Bank pada tahun 1951. Dua tahun kemudian, dia menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama pada tahun 1953.

Baca Juga: Sejarah Singkat Penderitaan Jalur Gaza Selama 75 Tahun, Konflik Serius Palestina dan Israel Sejak 1967

Jasa-jasa Sjafruddin sebagai Presiden Darurat melalui PDRI hampir terlupakan dalam sejarah. Padahal, perannya sangat penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengusir Belanda.

Meskipun sempat dianggap pemberontak, akhirnya masalah tersebut terpecahkan. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa jasa-jasanya jarang dikenang.

Sebagai warga negara Indonesia, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan menghormati peran para tokoh nasional.

Kita harus belajar dari perjuangan dan pengabdian mereka, dan melanjutkan warisan mereka dengan semangat yang sama dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.