PEPO.id - Film Korea Old Woman with the Knife menghadirkan sosok tak biasa: seorang nenek yang ternyata adalah pembunuh profesional. Dengan jarum beracun yang disematkan di tusuk kondenya, ia bisa menghabisi nyawa tanpa disadari siapa pun. Identitasnya terselubung, hingga tak ada yang menyangka siapa dia sebenarnya.

Dikisahkan pada tahun 1975, seorang wanita muda ditemukan oleh pria bernama Ryu dalam kondisi lemah di tengah salju. Ryu menolongnya dan memberinya tempat tinggal asalkan ia membantu di kedai makannya. Suatu malam, wanita itu nyaris diperkosa oleh tentara dan secara refleks membunuhnya menggunakan potongan besi. Sejak itulah hidupnya berubah.

Ryu memberinya nama Cloud dan memperkenalkannya pada sebuah organisasi pembunuh rahasia. Dengan cepat, Cloud berkembang menjadi eksekutor ulung dan telah membunuh ribuan target yang dianggap "hama masyarakat." Meski menua, keahliannya tetap tak tertandingi.

Baca Juga: Finch: Perjalanan Terakhir Manusia dalam Dunia Pascabencana dan Persahabatan dengan Robot

Di masa kini, Cloud yang sudah menjadi nenek, masih melanjutkan aksinya. Ia membunuh pria kasar di kereta dengan tusuk kondenya secara diam-diam. Namun, kesehatannya mulai menurun. Tangannya gemetar dan ia kerap merasa pusing. Di saat yang sama, organisasi yang ia ikuti kini dipimpin oleh Son, pemuda ambisius yang tidak selalu sejalan dengannya.

Seorang pria brutal bernama Bull muncul, dikenal mampu membunuh hanya dalam 10 detik. Son mencoba merekrut Bull, tapi pria itu menolak. Sementara itu, Cloud tetap menjalankan tugasnya meskipun dokter menyarankan ia pensiun karena kondisinya yang memburuk.

Dalam organisasi, Cloud mulai merasa tidak sepaham dengan rekrutmen baru yang sembrono. Ia mempertanyakan mengapa target seperti Nyonya Hong, yang hanya ingin keadilan bagi putranya, harus ditolak bantuannya. Konflik mulai muncul antara Cloud, Bull, dan Son.

Baca Juga: Superman Kembali Jadi Simbol Harapan: Kritik, Kejutan, dan Refleksi Sosial di Bawah Arahan James Gunn

Bull secara perlahan mengintai Cloud, menggali masa lalu kelamnya. Ternyata Bull adalah anak dari salah satu target Cloud di tahun 1998. Ia menyaksikan ayahnya dibunuh oleh Cloud dan trauma itu membekas hingga dewasa. Namun, Bull tidak ingin membalas dendam, melainkan memahami alasan Cloud melakukan itu.

Cloud yang merasa terpojok, melakukan misi terakhirnya untuk membantu Nyonya Hong. Ia terjebak dan dikubur hidup-hidup oleh kelompok gangster, tapi Bull datang menyelamatkannya. Mereka berbagi masa lalu dan luka batin masing-masing. Namun, Cloud meracuni Bull secara diam-diam.

Ternyata semua yang dilakukan Cloud adalah bagian dari rencana besar. Ia tahu Son akan mengkhianatinya, dan ia menggunakan kesetiaan sekretaris Kim untuk membantunya. Ia juga memanfaatkan rasa penasaran Bull untuk menjebaknya secara perlahan.

Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan

Setelah membuang Bull ke jurang, Cloud berencana membubarkan organisasi. Namun, Bull masih hidup. Ia menculik anak seorang dokter yang pernah menolong Cloud, memaksa Cloud menghadapi pertarungan terakhirnya.

Dalam pertempuran brutal di gedung tua, Cloud menghadapi puluhan anggota organisasi seorang diri. Meski tertembak dan tertusuk berkali-kali, ia tetap melawan dengan segala tenaga. Aksi heroiknya menjadikannya legenda sejati.

Pertarungan klimaks terjadi antara Cloud dan Bull. Di tengah duel mematikan, terkuak bahwa Bull sebenarnya tidak membenci Cloud. Justru, ia melihatnya sebagai sosok ibu yang pernah melindunginya saat kecil. Dendam yang ia rasakan hanyalah wujud dari luka dan kerinduan akan kasih sayang.

Baca Juga: Tayang Perdana di Netflix, Squid Game 2 Berhasil Torehkan Berbagai Pencapaian

Cloud akhirnya mengingat masa itu. Ia memeluk Bull dan menyesal tak menyadari lebih awal. Bull, sambil sekarat, mengungkapkan bahwa hari-hari bersama Cloud dulu adalah masa terbaik dalam hidupnya. Ia pun meninggal dalam pelukan wanita yang ia anggap ibunya sendiri.

Beberapa hari kemudian, Cloud mendoakan rekan-rekan yang telah ia bunuh. Ia lalu kembali menerima tugas dari organisasi, meskipun kini tampaknya hanya tinggal dirinya sendiri. Target terakhirnya adalah seorang pendeta.

Film ditutup dengan adegan Cloud berjalan tenang menuju gereja, membawa pisau yang sudah diasah. Ia menua, lemah, dan terluka, namun semangat juangnya untuk "membersihkan dunia" masih menyala. Sebuah akhir yang menyayat, sekaligus menegaskan bahwa legenda belum benar-benar selesai.

Baca Juga: Negeri Para Ketua; Perseteruan Antar Geng di Kota Medan dengan Nilai Toleransi dan Komedi