PEPO.id - Film “The Fantastic Four: First Steps” (2025) menjadi pembuka semangat baru di semesta Marvel setelah era Avengers: Endgame berakhir. Banyak yang menganggap film ini sebagai titik balik setelah rentetan judul MCU yang dianggap mengecewakan oleh para penggemar setianya.

Pasca Endgame, sejumlah film MCU dianggap kurang berhasil menyentuh emosi penonton dan menghadirkan alur cerita yang solid. Namun, “The Fantastic Four: First Steps” mencoba mematahkan stigma itu, terutama dari aspek visual dan audio yang digarap sangat serius dan penuh identitas.

Secara visual, film ini disebut-sebut sebagai karya paling memukau dari MCU setelah Guardians of the Galaxy Vol. 3. Dari desain produksi, kostum, hingga tatanan rambut dan make-up, semuanya tampil solid dengan nuansa retrofuturistik khas era 1960-an.

Baca Juga: Pemandi Jenazah (2024) Tampilkan Teror Mistik di Balik Profesi Warisan

Salah satu kekuatan film ini adalah keberaniannya keluar dari pola MCU lama. Karena berlatar di universe 828, sang sutradara Matt Shakman bebas menciptakan dunia baru yang tidak terikat dengan template MCU sebelumnya. Hasilnya adalah dunia yang terasa segar dan orisinal.

Konsep “science optimism” era 60-an sangat terasa dalam desain dan color grading film ini. Palet warna pastel seperti biru muda dan oranye hangat menguatkan kesan penuh harapan dan kemajuan, sebagaimana filosofi Tomorrowland karya Walt Disney.

Teknologi dalam film ini menggambarkan visi masa depan yang dilihat melalui lensa era lampau. Mobil terbang bergaya jadul, miniatur kota, hingga lensa vintage yang digunakan dalam pengambilan gambar membuat film ini punya atmosfer unik yang sangat jarang ditemukan di film superhero modern.

Baca Juga: Akhirnya! Disney Resmi Membocorkan Sinopsis Film Fantastic Four: The First Steps

Audio pun tak kalah menggugah. Michael Giacchino menyusun musik dengan pola empat nada yang menggambarkan esensi dari tema “Fantastic Four”. Orkestrasi besar, paduan suara, dan sentuhan elektronik berpadu harmonis menciptakan nuansa megah sekaligus menyentuh.

Sayangnya, ketika bicara soal plot, film ini memunculkan banyak pertanyaan. Cerita berfokus pada dilema moral yang dialami Susan Storm saat harus memilih antara menyelamatkan anaknya atau miliaran manusia lainnya dari ancaman Galactus.

Premisnya menjanjikan, namun eksekusinya kurang matang. Konflik yang seharusnya menjadi momen kejatuhan tokoh utama justru ditampilkan sebagai momen heroik yang kurang mendapat konsekuensi logis. Plot device terasa digunakan terlalu gampang.

Baca Juga: Monster Island 2025 Tampilkan Pertarungan Brutal Manusia dan Makhluk Laut di Tengah Pulau Misterius

Alih-alih menunjukkan kompleksitas moral, film ini menggampangkan perubahan sikap publik. Dalam satu pidato singkat, Susan Storm berhasil mengubah kemarahan massa menjadi dukungan penuh. Reaksi publik terasa tidak realistis, seolah penonton dipaksa ikut percaya.

Lebih parah lagi, konflik utama diselesaikan dengan solusi instan seperti “teleportasi bumi” yang tidak dijelaskan secara rinci. Meskipun dunia 828 disebut lebih maju, penonton tetap membutuhkan narasi yang masuk akal, bukan sekadar logika komik yang dijejalkan begitu saja.

Ironisnya, Galactus yang digadang-gadang sebagai musuh paling berbahaya di MCU justru tampil kurang mengintimidasi. Padahal karakter ini punya potensi besar untuk membangkitkan rasa takut dan urgensi di kalangan penonton.

Baca Juga: Petualangan Jumbo Bocah Pendongeng yang Menemukan Sahabat Hantu dan Keberanian di Atas Panggung

Emosi yang seharusnya muncul dari keputusan besar Susan Storm tidak terasa mendalam. Tidak ada rasa empati, haru, atau keterikatan yang kuat terhadap karakter-karakter di film ini. Semua terasa hambar dan datar, meski balutan visual dan musiknya luar biasa.

Sebagai perbandingan, film “Thunderbolts” dinilai lebih unggul dalam pengembangan karakter. Walau tak banyak mendapat sorotan, para tokohnya mengalami perkembangan emosional yang kuat dan mampu menyentuh hati penonton, berbeda dengan karakter di Fantastic Four.

“First Steps” seharusnya bisa menjadi film terbaik MCU dekade ini jika penulisannya lebih tajam. Sayangnya, premis menarik itu dirusak oleh penyelesaian plot yang terlalu mudah dan kurang berani mengambil risiko terhadap karakternya.

Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan

Namun, tidak bisa disangkal bahwa dari segi produksi, film ini sangat berhasil. Visual dan audio menyatu dalam harmoni yang jarang ditemukan di film MCU belakangan ini. Dari sisi teknis, film ini layak disebut sebagai perwujudan nyata dari konsep “absolute cinema”.

Kesimpulannya, “The Fantastic Four: First Steps” bukanlah kegagalan. Justru, film ini menunjukkan bahwa MCU masih punya harapan jika berani keluar dari zona nyaman dan mempercayakan kreativitas kepada para pembuat film. Ini adalah langkah awal yang patut diapresiasi.