PEPO.id - Film Jumbo (2025) membawa penonton ke Kampung Seruni, tempat seorang bocah bernama Don dikenal dengan sebutan Jumbo menemukan keberanian dan makna persahabatan sejati melalui dongeng, pentas seni, dan pertemuan tak terduga dengan arwah penasaran. Kisah ini dimulai saat Jumbo sedang membacakan dongeng untuk teman-temannya, namun mereka bosan dan beralih bermain kasti.

Saat seorang anak cedera, Jumbo menawarkan diri menggantikannya dan menitipkan buku dongengnya kepada Nurman. Namun, Atta, bocah yang tidak menyukai Jumbo, memukul bola dengan sengaja terlalu keras. Jumbo mengejarnya hingga tanpa sengaja menginjak banner festival seni yang tengah dipersiapkan warga kampung.

Sementara itu, konflik muncul di kampung karena beberapa warga akan digusur. Untungnya kepala desa turun tangan untuk meredakan situasi. Jumbo sendiri berjuang keras mengejar bola yang jatuh ke sepeda orang lain, hingga akhirnya berhasil mengambilnya meski kelelahan dan jatuh.

Baca Juga: Pertarungan Hidup dan Mati di Dunia Pascazombie: Kisah Menegangkan Film 28 Years Later

Namun permainan sudah selesai saat Jumbo kembali. Teman-temannya menolak bermain dengannya lagi karena dianggap lelet dan kerap membuat tim kalah. Di tengah kekecewaan, terdengar pengumuman pendaftaran pentas seni. Nurman menyemangatinya, namun Jumbo merasa dirinya tak cukup hebat.

Di sisi lain, Atta dan kakaknya, Acil, hidup dalam keterbatasan. Acil enggan berobat karena takut biaya, meskipun dibantu kepala desa untuk membeli obat. Atta mencoba membuat radio canggih dan didorong untuk ikut pentas seni demi membantu kakaknya.

Nenek Jumbo menyarankan cucunya untuk ikut pentas dengan menggunakan buku dongeng milik orang tuanya. Buku itu menyimpan lirik lagu peninggalan ibunya. Jumbo akhirnya termotivasi dan meminta bantuan Nurman serta Mae untuk latihan pentas.

Baca Juga: Petaka Gunung Gede Film Horor yang Ramai Ditonton tapi Sarat Kritik

Sayangnya, pendaftaran sudah ditutup. Tapi keberuntungan datang ketika salah satu peserta mengundurkan diri dan panitia meminta Jumbo menggantikannya. Atta marah dan mencuri buku Jumbo. Saat mencoba mengambil kembali buku itu, Jumbo dan teman-temannya dikejutkan oleh kehadiran arwah perempuan bernama Meri.

Meri meminta bantuan mencari makam orang tuanya yang dihancurkan oleh sosok berjubah hitam. Awalnya mereka menolak, tapi Meri membantu Jumbo mendapatkan bukunya kembali. Jumbo pun berjanji akan membantu Meri sebagai imbalan.

Atta yang sedih karena gagal ikut pentas, dihibur oleh Acil. Di sisi lain, Jumbo kembali meminta bantuan Meri untuk membantunya tampil di pentas. Meri, yang semula menolak, akhirnya bersedia. Ia bahkan diberi pakaian agar bisa tampil seperti manusia.

Baca Juga: Man With No Past: Aksi Lintas Zaman Menguak Takdir dan Identitas Sang Penyelamat

Nenek Jumbo menceritakan asal usul buku dongeng yang dibuat orang tua Jumbo semasa hidup. Cerita itu menambah semangat Jumbo, yang kemudian mengikuti lomba bersama teman-temannya demi mendapatkan uang untuk kostum pentas.

Pentas seni pun berlangsung. Jumbo menyanyi, Mae bercerita. Mereka sukses dan menang. Tapi Meri menagih janji. Jumbo meminta waktu lebih lama karena harus ikut pentas lanjutan. Meri kecewa dan pergi. Atta yang mendengar percakapan itu melapor ke Acil, tapi ditanggapi sinis.

Ternyata kepala desa adalah sosok berjubah hitam yang menggali makam demi tujuan komersial. Ia bahkan ingin menangkap arwah Meri dan memasukkannya ke dalam radio. Dalam kekacauan, Meri sempat tertangkap dan dimasukkan ke radio.

Baca Juga: Satu Kakak Tujuh Ponakan: Drama Keluarga Penuh Air Mata dengan Visual yang Menggetarkan

Jumbo dan Nurman bertengkar karena Jumbo dianggap lebih peduli pada pentas daripada Meri. Akhirnya Atta mendatangi Jumbo, meminta maaf dan mengakui rasa iri selama ini. Mereka sepakat bekerja sama untuk menyelamatkan Meri dan menghentikan kepala desa.

Mereka menyusun rencana, menakuti kepala desa, dan mencoba merebut kembali radio tempat Meri terperangkap. Aksi berani dilakukan anak-anak itu meski sempat terancam. Jumbo akhirnya mengingat pesan neneknya dan melempar buku dongengnya ke arwah orang tua Meri.

Tindakan itu membebaskan Meri dan mengungkap kejahatan kepala desa yang ternyata sedang berdiri di atas panggung pentas saat rahasianya terbongkar. Warga marah dan langsung menangkapnya. Meri akhirnya berpamitan dan kembali ke dunia asalnya dengan bantuan portal dari radio.

Baca Juga: Ketika Nenek Pembunuh Jadi Legenda yang Tak Terlupakan, Film Old Woman with the Knife 2025

Beberapa tahun kemudian, teman-teman Jumbo mengikuti pentas seni. Jumbo memilih tidak tampil dan mendukung mereka dari belakang. Di rumah, neneknya mengungkap bahwa Meri pernah menjadi sahabat masa kecilnya. Hal itu mengejutkan Jumbo.

Cerita diakhiri saat Jumbo memutar radio peninggalan orang tuanya dan mendengar suara mereka menyanyi dan bercerita untuknya. Tangis Jumbo pecah, tapi ia tahu, meskipun orang tuanya telah tiada, cinta mereka akan selalu menyertainya.