PEPO.id - Film Sabtu Bersama Bapak yang dirilis pada 2016 mengangkat kisah keluarga yang penuh pesan moral dan emosional. Diadaptasi dari novel karya Adhitya Mulya, film ini disutradarai Ody Mulya Hidayat dengan jajaran aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, dan Sheila Dara Aisha.

Kisah dimulai saat Gunawan, sang ayah, didiagnosis mengidap kanker otak dan diperkirakan hanya memiliki waktu hidup setahun lagi. Mengetahui waktunya terbatas, ia memutuskan membuat serangkaian video berisi nasihat untuk istri dan kedua anaknya, Satya dan Cakra, yang akan diputar setiap Sabtu sore.

Gunawan ingin tetap hadir membimbing keluarganya meski nanti ia tiada. Dalam salah satu rekaman, ia mengatakan kepada anak-anaknya agar tidak marah kepada Tuhan atau diri sendiri, dan untuk selalu kuat menghadapi hidup. Tak lama kemudian, Gunawan meninggal dunia.

Baca Juga: Home Sweet Loan: Perjuangan Kaluna Wujudkan Rumah Impian di Tengah Konflik Keluarga dan Cinta

Bertahun-tahun kemudian, Satya dan Cakra tumbuh dewasa. Satya membantu ibunya mengurus rumah makan keluarga, sementara Cakra merintis karier hingga menjadi CEO. Meski sukses secara profesional, keduanya masih terus mendapat nasihat “Sabtu bersama Bapak” melalui video warisan sang ayah.

Satya menikah dengan Risa dan bekerja di Paris. Suatu ketika ia mengalami kecelakaan kerja, namun tetap menyempatkan diri memberikan nasihat pada anaknya, mengulang pesan yang dulu ia dapat dari Bapak: kemenangan harus diraih, bukan diberi.

Cakra, di sisi lain, sering digoda rekan kerjanya karena masih lajang. Ia kemudian bertemu pegawai baru bernama Ayu yang membuatnya salah tingkah. Meski awalnya canggung, ia mencoba mendekati Ayu, namun mendapat saingan dari rekan lain, Salman.

Baca Juga: Kisah Haru My Annoying Brother Versi Indonesia: Persaudaraan, Pengorbanan, dan Asa di Tengah Derita

Ibu mereka, Ice, menyembunyikan kabar bahwa ia juga mengidap tumor otak seperti mendiang suaminya. Ia memilih menjalani operasi diam-diam agar kedua anaknya tidak khawatir.

Konflik lain muncul ketika anak-anak Risa hampir diculik oleh orang tak dikenal. Satya yang panik justru marah pada istrinya, membuat hubungan mereka merenggang. Sementara itu, Cakra patah hati karena Ayu menolak ajakannya makan siang.

Ayu ternyata memiliki trauma masa lalu, membuatnya sulit menerima orang baru. Tak disangka, nasib mempertemukan mereka kembali ketika Cakra dijodohkan dengan “Ratna” yang ternyata adalah Ayu. Dari situ, hubungan mereka mulai mencair.

Baca Juga: Angel Pol: Ketika Musik, Rakyat, dan Cinta Menjadi Satu Panggung

Satya, setelah diingatkan lewat mimpi akan pesan Bapak, menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk keluarga. Ia pun mencari Risa dan memperbaiki hubungannya.

Di sisi lain, penyakit tumor yang diderita Ibu Ice kambuh dan memerlukan tindakan operasi segera. Cakra, yang sedang dekat dengan Ayu, memutuskan mendampingi sang ibu di rumah sakit. Pertemuan ini membuat Ayu mengenal keluarganya lebih dekat.

Dalam kebersamaan keluarga itu, Ibu Ice memutar rekaman video terakhir peninggalan Gunawan. Di rekaman itu, sang Bapak mengatakan bahwa tugasnya sebagai ayah telah selesai, dan kini giliran Satya dan Cakra menjadi sosok ayah yang membesarkan anak-anak mereka kelak.

Baca Juga: Keluarga Super Irit: Kisah Haru Perjuangan Keluarga Kecil Bertahan di Tengah Keterbatasan

Rekaman tersebut menjadi inti pesan moral film: seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pembentuk karakter dan teladan bagi anak-anaknya.

Film diakhiri dengan kilas balik Gunawan dan Ice berbicara tentang kekhawatiran Gunawan bahwa anak-anaknya akan kehilangan figur ayah. Karena itu, ia membuat video-video tersebut sebagai warisan hidupnya.

Sabtu Bersama Bapak menjadi pengingat kuat bahwa kebersamaan keluarga adalah warisan termahal, dan pesan bijak orang tua akan terus hidup selama diingat dan dijalankan anak-anaknya.

Baca Juga: Senyum Manis Love Story: Kisah Cinta Muda Anies Baswedan dan Fery Farhati Tayang di Layar Lebar