PEPO.id - Satu hari menjelang penayangan film animasi Merah Putih One for All, perbincangan hangat terus bergulir di kalangan publik dan warganet.

Perdebatan mencakup berbagai aspek, mulai dari biaya produksi, kualitas animasi, hingga kelayakan film ini untuk diputar di layar bioskop.

Tak sedikit yang membandingkan Merah Putih One for All dengan pendahulunya, Jumbo, film animasi anak-anak karya anak bangsa yang pernah menggebrak box office Indonesia.

Baca Juga: Film Horor “Sihir Pelakor” Angkat Kisah Nyata Ilmu Hitam Sabdo Pandito, Resmi Tayang di Bioskop

Jumbo berhasil menembus rekor penonton hingga 10 juta, menjadikannya salah satu film animasi Indonesia tersukses sepanjang masa.

Perbandingan pertama terletak pada biaya produksi. Film Jumbo disebut menghabiskan biaya produksi lebih dari Rp20 miliar, sedangkan Merah Putih One for All diperkirakan memerlukan anggaran hanya sekitar Rp7-8 miliar.

Dari segi waktu pengerjaan, Jumbo membutuhkan proses produksi sekitar lima tahun dengan melibatkan lebih dari 200 kreator Indonesia, termasuk animator, penulis naskah, dan pengisi suara.

Baca Juga: Film Animasi “Merah Putih One For All” Siap Tayang Jelang HUT RI ke-80, Panen Kritikan Warganet

Sebaliknya, Merah Putih One for All baru mulai digarap pada Juni 2025 dan rampung dalam waktu kurang dari dua bulan.

Perbedaan lain terlihat dari rumah produksi yang menggarap kedua film tersebut. Jumbo digarap oleh Visinema Pictures, rumah produksi yang telah berpengalaman dan memiliki reputasi kuat di dunia perfilman Indonesia.

Visinema Pictures dikenal lewat karya seperti Cahaya Dari Timur yang memenangkan penghargaan Film Terbaik FFI dan Filosofi Kopi yang memicu tren minum kopi di kalangan anak muda.

Baca Juga: Wednesday Season 2 Resmi Tayang di Netflix, Hadirkan Misteri Lebih Gelap dan Kejutan Mengejutkan

Pada 2020, Visinema berhasil meraih pendanaan Seri A senilai US$3,25 juta atau setara kurang lebih Rp45,5 miliar dari perusahaan modal ventura Intudo Ventures.

Di sisi lain, Merah Putih One for All merupakan produksi Perfiki Kreasindo, sebuah rumah produksi yang masih tergolong baru di kancah perfilman layar lebar Indonesia.

Dari segi latar cerita, Jumbo mengambil setting era 2000-an di Kampung Seruni, mengangkat isu persahabatan, kepercayaan diri, penerimaan diri, dan masalah sosial seperti bullying.

Baca Juga: Fakta Menarik Panji Tengkorak, Komik Legendaris yang Siap Hadir di Layar Lebar dalam Format Animasi

Jika Jumbo mengangkat cerita bertema persahabatan dan penerimaan diri, Merah Putih One for All menitikberatkan pada semangat kemerdekaan di kalangan anak-anak desa yang tergabung dalam “Tim Merah Putih”.

Jumbo menceritakan kisah Don, anak bertubuh besar yang ingin membuktikan dirinya lewat pertunjukan bakat, dan kemudian bertualang bersama arwah anak kecil untuk menemukan makna persahabatan.

Sedangkan Merah Putih One for All mengikuti kisah delapan anak dari berbagai daerah yang bersatu menyelamatkan bendera pusaka yang hilang tiga hari sebelum upacara kemerdekaan.

Baca Juga: Film Animasi Panji Tengkorak Segera Hadir, Falcon Pictures Gaet Aktor Ternama

Mereka harus menghadapi perbedaan budaya, rintangan alam, hingga konflik batin demi mengibarkan bendera pada Hari Kemerdekaan.

Kedua film ini sama-sama membawa pesan moral yang kuat, namun perbandingan kualitas, durasi produksi, dan besarnya anggaran membuat publik penasaran dengan hasil akhir Merah Putih One for All di layar lebar.