PEPO.id - Industri film Hollywood kembali menghadirkan gebrakan lewat film komedi aksi terbaru berjudul The Naked Gun. Dibintangi oleh Liam Neeson, film ini menyuguhkan humor absurd khas waralaba legendaris yang pernah populer pada akhir 80-an hingga 90-an.

Kali ini, Neeson berperan sebagai Frank Drebin Jr, putra dari detektif ikonik Frank Drebin. Film dibuka dengan adegan perampokan bank oleh kelompok kriminal yang dipimpin Sig Gustafson, diperankan Kevin Durand. Namun, twist kocak langsung muncul ketika seorang “gadis pramuka kecil” membuka penyamarannya dan ternyata adalah Frank.

Dengan masih mengenakan seragam pramuka, Frank menghajar para perampok menggunakan gaya konyol penuh parodi. Aksi itu sekaligus memperlihatkan ciri khas film yang tidak hanya penuh aksi, tetapi juga satire yang berlebihan.

Baca Juga: Patah Hati Paling Sengaja: Film Relatable Tentang Cinta Beda Agama Dibintangi Bryan Domani dan Prilly Latuconsina

Sebagai anggota Police Squad, Frank selalu berniat melanjutkan warisan ayahnya. Sayangnya, ia justru kerap menimbulkan masalah baru bagi departemen kepolisian. Kapten Ed Hocken Jr, diperankan Paul Walter Hauser, menjadi rekan setia yang harus menanggung akibat dari aksi-aksi liar Frank.

Kepala Davis, yang dimainkan CCH Pounder, berulang kali memperingatkan Frank untuk lebih patuh aturan. Namun, Frank tetap berharap ayahnya memberi petunjuk melalui penampakan aneh, termasuk muncul dalam wujud burung hantu raksasa.

Kasus utama bermula ketika seorang pria bernama Simon Davenport ditemukan tewas akibat mobilnya terjun dari tebing. Polisi menduga bunuh diri, tetapi Frank mencium adanya kejanggalan setelah menemukan korek api bergambar harimau.

Baca Juga: Film Yohanna: Laura Basuki Raih Best Actress di Asian Film Festival 2025 Lewat Peran Menggugah

Dalam penyelidikan, Frank bertemu Beth Davenport, saudara perempuan korban yang diperankan Pamela Anderson. Frank langsung jatuh hati padanya, sementara Beth meyakini kakaknya dibunuh dan menaruh curiga pada bos Simon, Richard Cane, CEO EdenTech yang diperankan Danny Huston.

Di sebuah acara mewah, Cane memamerkan penemuan-penemuan anehnya, termasuk mesin peningkat sperma. Frank melihat simbol harimau yang sama di korek milik Cane, mengarahkannya ke klub eksklusif Bengal. Namun, saat pulang, Frank justru dikirimi hadiah berupa mobil pintar yang malah membuat kekacauan.

Dari rekaman keamanan, terungkap bahwa Gustafson dan kelompoknya mengincar benda bernama P.L.O.T. Device dari brankas Simon. Perangkat ini ternyata dirancang untuk memicu kekerasan massal dengan frekuensi tertentu.

Baca Juga: A Normal Woman: Film Psikologis Lucky Kuswandi yang Bongkar Luka Batin Perempuan Modern

Cane berencana menjalankan “Project Inferno”, yakni mengaktifkan alat itu agar dunia saling menghancurkan, sementara para miliarder jahat bersembunyi di bunker bersama Weird Al Yankovic sebagai hiburan.

Frank berusaha mencari bukti dengan menyusup ke klub Bengal bersama Beth. Aksi kocak Beth yang menyanyi lagu scat absurd mengalihkan perhatian, sementara Frank masuk ke ruang keamanan. Namun, aksinya membuat Kepala Davis menjatuhkan skorsing.

Hubungan Frank dan Beth pun berkembang. Dari makan malam yang salah paham hingga liburan ke kabin salju yang berakhir melawan boneka salju hidup, keduanya makin dekat. Namun, Frank justru dijebak dalam kasus pembunuhan reporter O’Reilly yang sebenarnya sudah direncanakan Cane.

Baca Juga: Tukar Takdir: Kisah Penyintas Kecelakaan Pesawat yang Mengubah Jalan Hidup

Dalam pelarian, Cane meretas mobil pintar Frank, menciptakan kejar-kejaran penuh kekacauan dari balon, lebah, hingga kaca depan pengganti. Di sisi lain, Police Squad dibubarkan dan kantor mereka diubah menjadi toko kostum Halloween.

Dengan semangat parodi ala Mission: Impossible, Frank dan Ed berhasil menjebak Gustafson hingga mengungkap rencana Cane. Sayangnya, Detektif Barnes dari Internal Affairs juga berusaha menjebak Frank, tetapi keadaan berbalik hingga Barnes sendiri yang ditangkap.

Klimaks terjadi pada malam tahun baru, saat Cane hendak mengaktifkan P.L.O.T. Device. Frank mencoba menggagalkan rencana itu meski sempat dipermalukan celana yang tersangkut. Beth ditawan, sementara Cane menyalakan perangkat lebih awal, membuat seluruh kota saling menyerang.

Baca Juga: Lupa Daratan: Drama Komedi Karya Ernest Prakasa Tayang di Netflix 2025

Frank akhirnya dibantu oleh penampakan ayahnya yang muncul dalam wujud burung hantu raksasa. Dengan pertarungan konyol penuh parodi, Cane berhasil dikalahkan hanya dengan satu pukulan. Alih-alih membunuhnya, Frank menggunakan perangkat untuk mengembalikan keadaan normal.

Film ditutup dengan Frank dan Beth yang tengah berlibur, tetapi menyadari bahwa mereka sedang “ditonton”. Dalam adegan meta yang absurd, Frank memecahkan dinding keempat secara harfiah, menjadi penutup khas yang jenaka untuk film penuh satire ini.