PEPO.id — Kabupaten Bogor kembali mencatatkan namanya dalam sejarah konservasi satwa internasional.

Seekor bayi giant panda bernama Satrio Wiratama atau Baby Rio yang lahir di Taman Safari Indonesia, Cisarua, resmi menjadi panda pertama yang lahir di Indonesia sekaligus satu-satunya kelahiran panda di luar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sepanjang tahun 2025.

Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan rasa bangga atas pencapaian tersebut saat mengunjungi Istana Panda Indonesia di Taman Safari Indonesia, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurutnya, keberhasilan kelahiran Baby Rio menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi yang dijalankan melalui kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok.

Baca Juga: Rapat Evaluasi IKU 2026, Rudy Susmanto Minta Program Pemkab Bogor Tepat Sasaran dan Berbasis Data

"Taman Safari Indonesia merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Bogor. Kami merasa terhormat karena Taman Safari Indonesia di Kabupaten Bogor dapat bekerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok dalam program konservasi giant panda," ujar Rudy.

Ia menilai, kelahiran Baby Rio bukan hanya menjadi kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga menghadirkan catatan sejarah penting bagi Kabupaten Bogor dan Indonesia.

"Ini menjadi sebuah kebanggaan dan kehormatan bagi kami. Panda tersebut merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia, sekaligus satu-satunya panda yang lahir di luar RRT pada tahun 2025. Ini menjadi catatan sejarah baru dan mudah-mudahan dapat menjadi jembatan penghubung yang semakin mempererat komunikasi serta hubungan antarnegara, antara Indonesia dan RRT," katanya.

Baca Juga: Kurangi Kemacetan, Rudy Susmanto Pastikan Flyover Bomang Masuk Tahap Lelang Tahun Ini

Rudy menjelaskan, kerja sama yang terjalin antara Taman Safari Indonesia dan Tiongkok tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan giant panda. Kolaborasi tersebut juga mencakup pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi satwa, hingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan hewan.

Dalam proses kelahiran Baby Rio, Taman Safari Indonesia bahkan menghadirkan tenaga ahli dan perawat satwa dari Tiongkok guna memastikan induk maupun anak panda mendapatkan perawatan terbaik.

"Karena panda ini bukan sekadar satwa konservasi, melainkan juga simbol hubungan persahabatan dan diplomasi yang baik antara Indonesia dan RRT," tambah Rudy.

Sementara itu, Direktur Operasional Taman Safari Indonesia, Ester, menyebut kelahiran Baby Rio menjadi awal dari kerja sama konservasi yang lebih luas di masa mendatang.

"Bagi kami, kelahiran Baby Rio bukanlah akhir dari sebuah kisah sukses, melainkan awal dari kerja sama yang lebih luas dan bermakna. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat terus mempromosikan konservasi satwa liar, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian alam, serta memperkuat kerja sama konservasi internasional yang berkelanjutan," ujarnya.

Ester juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Tiongkok melalui China Wildlife Conservation Association (CWCA) dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP), yang selama ini memberikan pendampingan teknis dan penelitian hingga proses kelahiran Baby Rio berjalan sukses.

Tak hanya itu, ia turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kehutanan, yang terus mendukung penguatan program konservasi satwa liar dan kerja sama internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Ester mengungkapkan kebanggaannya karena Presiden RI Prabowo Subianto memberikan nama Satrio Wiratama kepada bayi panda tersebut. Nama itu dinilai mencerminkan keberanian, kemuliaan, dan semangat perjuangan, sekaligus menjadi simbol eratnya persahabatan Indonesia dan Tiongkok.

Menurut Ester, keberhasilan yang diraih saat ini merupakan hasil perjalanan panjang yang dibangun oleh para pendiri Taman Safari Indonesia dalam mewujudkan pusat konservasi satwa berstandar internasional.

"Yang kita saksikan hari ini merupakan buah dari sebuah mimpi besar yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, melewati berbagai tantangan dan perjalanan panjang hingga akhirnya dapat terwujud," tuturnya.***