PEPO.id - Film Bila Esok Ibu Tiada menghadirkan kisah keluarga yang diwarnai kesibukan, pertengkaran, dan penyesalan, dengan latar cerita yang menyentuh hati penonton.

Cerita dibuka dengan keluarga harmonis yang terdiri dari Pak Hario, Ibu Rahmi, dan empat anak mereka: Ranika, Rangga, Rania, serta si bungsu Hening. Kehidupan berubah drastis setelah Pak Hario meninggal dunia.

Sejak kepergian sang ayah, Ibu Rahmi sering merasa kesepian. Anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing: Ranika bekerja di perusahaan besar, Rangga menjadi musisi, Rania berkarier di dunia akting, sementara Hening fokus kuliah.

Baca Juga: Bolehkah Sekali Saja Aku Menangis: Perjuangan Tari Keluar dari Lingkaran Kekerasan

Pada suatu hari istimewa, tak satu pun anak yang mengingat ulang tahun Ibu Rahmi. Hanya Tante Esti, adik sang ibu, yang datang membawa tumpeng, meski harus segera pulang.

Tante Esti lalu menghubungi Ranika agar segera pulang. Ranika pun mencoba mengumpulkan semua saudara untuk merayakan ulang tahun ibu, meski sebagian besar sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Malamnya, seluruh anak akhirnya berkumpul di rumah. Meski sudah larut, kehadiran mereka membuat Ibu Rahmi bahagia. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Baca Juga: Sabtu Bersama Bapak: Warisan Pesan Kehidupan dari Sosok Ayah untuk Anak-anaknya

Ranika kesal karena merasa selalu menjadi pihak yang menginisiasi kebersamaan keluarga. Perdebatan memanas ketika ia menyinggung pekerjaan Rangga yang dianggap tak jelas, memicu kemarahan sang adik.

Rania pun ikut tersulut emosi, membela pekerjaan seni. Perdebatan meruncing, hingga Ibu Rahmi harus menenangkan anak-anaknya agar tidak bertengkar di hari spesial tersebut.

Waktu berjalan, kesehatan Ibu Rahmi memburuk. Dokter menyarankan agar ada yang selalu mendampingi, namun kenyataannya ia sering pergi ke rumah sakit sendirian.

Baca Juga: Home Sweet Loan: Perjuangan Kaluna Wujudkan Rumah Impian di Tengah Konflik Keluarga dan Cinta

Merasa diabaikan, Ibu Rahmi memutuskan pergi seorang diri ke Pekalongan untuk berziarah ke makam suami, tanpa memberi tahu anak-anaknya.

Di Pekalongan, ia mengunjungi pantai dan makam suaminya, meluapkan kerinduan serta kelelahan batin karena kesibukan anak-anak yang membuatnya merasa sendiri.

Sementara itu, di rumah, anak-anak panik ketika mengetahui keberadaan ibu. Mereka baru tahu dari Tante Esti bahwa sang ibu berada di Pekalongan.

Baca Juga: Kisah Haru My Annoying Brother Versi Indonesia: Persaudaraan, Pengorbanan, dan Asa di Tengah Derita

Sesampainya di rumah, Ibu Rahmi meminta maaf karena membuat anak-anak khawatir. Namun hubungan antar saudara tetap tegang.

Konflik kembali muncul saat Rania terjerat kasus narkoba bersama manajernya. Ranika yang mencoba menutupinya agar ibu tak tahu justru berujung pada musibah lain.

Ibu Rahmi jatuh di kamar mandi saat hendak salat tahajud. Meski sempat dilarikan, nyawanya tak tertolong. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi semua anak.

Baca Juga: Angel Pol: Ketika Musik, Rakyat, dan Cinta Menjadi Satu Panggung

Pemakaman dilakukan tanpa kehadiran Rania yang masih ditahan. Saat bebas, Rania marah karena tak diberi kesempatan melihat ibunya untuk terakhir kali, memperlebar jurang konflik antar saudara.

Pada akhirnya, keempat anak menyadari pentingnya kebersamaan dan saling memahami. Mereka sepakat memperbaiki hubungan, menjadikan rumah ibu sebagai tempat pulang, agar penyesalan tak lagi terulang.