PEPO.id - Hujan turun lagi sore ini. Sambil menunggu hujan reda, saya terjebak di sebuah gubuk di tengah sawah.
Bukannya saya tidak ingin basah, tetapi ada banyak serangga, di hari hujan seperti itu, bermain di tanah pasti menyenangkan. Ya, saya takut serangga.
Aku memang harus kembali ke rumah nenekku di Cianjur. Nenek saya adalah seorang petani dan dia menggarap tanah itu sepanjang hidupnya.
Namun, semangatnya untuk ayahnya tidak berkurang. Sebaliknya, ayah saya memilih pindah ke Kota Bandung dan bekerja sebagai arsitek di sana. Keluarga saya sering pergi ke rumah nenek.
Baca Juga: Inara Rusli Rela Lepas Cadar Demi Menghidupi Ketiga Anaknya: Ini Saatnya Kita Bangkit
Bahkan, anak tetangga nenek saya dan saya adalah teman baik. Dia adalah anak laki-laki ceria yang telah memakai kacamata sejak dia berusia 7 tahun. Kehadirannya selalu membuat suasana pertemuan menjadi ceria dan cerah.
Itu mungkin mengapa saya mencarinya setiap kali saya kembali ke Zhan Yu. Tapi sejak kami berdua kuliah, kami jarang bertemu.
Karena aktivitas saya yang meningkat di kampus dan ayah saya mencari posisi di kantor baru, itu membuatnya sangat sibuk.
Kalau tidak salah, terakhir kali kami ke Cianjur sekitar dua setengah tahun yang lalu.
Baca Juga: Resep Gulai Daging Sapi Khas Sumatera, Cocok Disajikan Bersama Nasi Putih Hangat
Sore ini hujan deras sehingga saya mungkin terjebak di tengah sawah selama lebih dari satu jam.
Kesibukan di kampus ditambah dengan kisah cintaku yang kacau membuat aku menikmati waktuku di Cianjur.
Saat aku sedang asik melamun melihat daun padi yang bergoyang diterpa angin dan guyuran air hujan, suara seseorang membawaku kembali ke realita.
“Nadin, kok bengong?” ujar seseorang sambil menepuk pundakku.
Saat aku menolehkan kepalaku ke belakang, aku melihat senyum manis Feri. Lensa kacamata bagian dalamnya berembun, sementara yang bagian luar basah terkena terpaan air hujan.
Baca Juga: Desta Mengaku Menyesal Tidak Ada Jalan Keluar Usai Melakukan Mediasi Dengan Natasha Rizki
Dia membawa dua payung, satu dia pakai dan satunya lagi dijinjing Namun, karena kencangnya angin, payung yang dia bawa tak dapat melindungi dirinya dari terpaan air hujan.
“Kamu ke sini bawa basah-basahan ngapain, ih? Sini buru masuk gubuk biar kamu nggak makin basah,” kataku.
Dia pun masuk ke gubuk dan seketika membuat bagian dalam gubuk menjadi basah.
“Aku ke sini mau jemput kamu. Soalnya kata Nini, kamu kejebak di tengah sawah barengan sama keong sawah,” jawabnya.
Aku sontak tertawa mendengar ceritanya.
Baca Juga: 5 Efek Berhenti Konsumsi Kafein Bagi Tubuh, Salah Satunya Pola Tidur Membaik
“Ih, aku tuh takut cacing kalau pulang. Jadi, aku di sini dulu aja sampe nanti ujannya reda,” jawabku.
“Sama aja, Din. Cacing juga pada main keluar rumah kalau hujannya sudah reda. Kamu kira cacing keluarnya pas lagi hujan saja?” kata Feri sambil terkekeh.
Kami pun menunggu hujan reda sambil bercerita tentang apa saja yang terjadi selama kami tak bertemu.
Mulai dari aktivitas kami berdua di kampus masing-masing hingga film, buku, dan tren di media sosial terbaru. Berbincang dengan Feri selama satu jam membuatku menyadari betapa kagum aku pada dirinya.
Feri merupakan sosok yang perian dan humoris, tapi dewasa di saat yang bersamaan. Dari sekian laki-laki yang mendekatiku, tak pernah aku melihat apa yang ada di dalam diri Feri.
Baca Juga: Beragam Makanan Enak di Banyuwangi, Kenikmatan Rasanya Sampai Meresap ke Dalam Hati
Seketika, aku tersadar. Mungkin saja, selama ini aku mencari sosok seperti Feri yang bisa mengisi hari-hariku.
Namun, tak pernah aku menemukan sosok lain yang seperti Feri. Saat itu juga, aku menyadari perasaanku kepada Feri selama ini. Saat aku sedang menatap matanya yang teduh, Feri memanggil namaku.
“Nadin, aku mau cerita sama kamu,” katanya.
“Kenapa, Fer?” jawabku sembari berdebar menebak-nebak apa yang akan diceritakan Feri.
“Aku kemarin mengajak Mbak Ratih buat serius. Kayaknya, tahun ini aku mau menikah dengannya,” ujar Feri.
Hatiku langsung perih setelah mendengar kabar bahwa cinta pertamaku akan menikahi tanteku yang sudah lama tinggal di rumah Nenek setelah menjanda.***

