PEPO.id - Depresi menjadi salah satu gangguan mental yang paling banyak dialami masyarakat, namun penyebab pastinya hingga kini belum bisa dipastikan secara ilmiah. Namun, beberapa faktor telah diketahui dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi.

Gangguan ini ditandai dengan berbagai gejala seperti kesedihan mendalam, kecemasan berlebihan, rasa putus asa, kehilangan motivasi, hingga menyalahkan diri sendiri atas kejadian-kejadian yang menimpa. Jika tidak ditangani, depresi bisa berdampak serius pada kehidupan seseorang, baik secara fisik maupun emosional.

Depresi bukan hanya persoalan perasaan, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi sosial, lingkungan, bahkan faktor biologis. Oleh karena itu, penanganan gangguan ini harus dilakukan secara menyeluruh dan di bawah pengawasan profesional kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog.

Baca Juga: Manfaat Buah Durian Bagi kesehatan Tubuh, Salah Satunya Mencegah Depresi

Inilah beberapa faktor utama yang diyakini turut berperan dalam memperbesar risiko seseorang mengalami depresi:

1. Usia
Memasuki usia lanjut, banyak orang mulai menghadapi keterbatasan fisik, mengecilnya lingkaran sosial, serta kekhawatiran terhadap kondisi kesehatannya. Hal ini memicu rasa kesepian mendalam yang dapat berujung pada depresi, terutama jika interaksi sosial sangat terbatas.

Penelitian juga menunjukkan bahwa isolasi sosial menjadi pemicu utama depresi, baik pada usia dewasa maupun lansia. Kurangnya koneksi sosial membuat seseorang merasa terputus dari lingkungan, yang berdampak pada kondisi mentalnya.

2. Genetik
Riwayat keluarga juga berpengaruh. Orang yang berasal dari keluarga dengan riwayat depresi cenderung memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan yang sama. Sekitar 40% penderita depresi tercatat memiliki latar belakang keluarga dengan kasus serupa.

Baca Juga: Kesehatan Mental Harus Dijaga agar Pikiran dan Hidup Lebih Seimbang, Berikut 5 cara menjaganya

3. Perubahan kadar hormon
Wanita dilaporkan lebih rentan terhadap depresi dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi dalam berbagai fase kehidupan, seperti saat menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, hingga menopause, yang dapat memengaruhi kestabilan emosi.

4. Trauma atau luka batin
Depresi juga sering muncul setelah seseorang mengalami trauma berat. Ini bisa berupa kehilangan orang tercinta, kekerasan fisik atau seksual, KDRT, bencana alam, atau kejadian menyakitkan lain. Saat individu tidak mampu mengolah atau mengendalikan dampak emosionalnya, risiko depresi pun meningkat.

5. Penyakit kronis
Orang yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, HIV/AIDS, atau kanker juga berisiko tinggi mengalami depresi. Rasa sakit berkepanjangan, pengobatan jangka panjang, dan stigma sosial terhadap penyakit mereka bisa membuat beban psikologis semakin berat.

Baca Juga: Jenis Tanaman Hias yang Baik untuk Kesehatan Mental, Bisa Meningkatkan Mood

6. Konsumsi alkohol
Banyak orang beranggapan bahwa alkohol mampu membantu meredakan stres atau kesedihan. Padahal, konsumsi minuman beralkohol justru dapat mengganggu sistem saraf pusat dan memperburuk suasana hati. Dalam jangka panjang, alkohol meningkatkan risiko depresi, bukan menyelesaikan masalah.

Tanpa penanganan yang tepat, depresi bisa menyebabkan perilaku berbahaya seperti menyalahgunakan obat, menyakiti diri sendiri, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Oleh karena itu, gejalanya harus segera ditangani secara profesional untuk mencegah kondisi makin parah.

Tahapan awal dalam mengatasi depresi adalah mengidentifikasi sejauh mana tingkat keparahan kondisinya. Setelah itu, dokter atau psikolog akan menyarankan beberapa bentuk terapi berdasarkan kebutuhan pasien.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog, Simak Penjelasan Lengkapnya

Psikoterapi menjadi salah satu metode utama yang digunakan. Terapi ini membantu pasien mengidentifikasi penyebab emosional yang memicu depresi serta membimbing mereka dalam mengelola respons emosional yang sehat.

Selain itu, pasien juga dapat diberikan obat antidepresan untuk membantu menstabilkan suasana hati. Jenis obat yang biasa diresepkan antara lain fluoxetine, sertraline, dan amitriptyline, yang diberikan sesuai dengan kondisi medis pasien.

Meski penyebab utama depresi masih belum sepenuhnya diketahui, kabar baiknya adalah gangguan ini bisa diobati dan dicegah kekambuhannya. Penting untuk melakukan deteksi sejak dini dan memberikan penanganan yang sesuai guna mencegah dampak yang lebih berat.

Baca Juga: 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental Agar Hidup Lebih Bahagia dan Produktif

Bagi siapa pun yang merasa mengalami gejala depresi, disarankan untuk tidak menunda berkonsultasi ke profesional kesehatan mental. Saat ini, konsultasi bisa dilakukan secara daring, termasuk melalui fitur Chat Bersama Dokter.

Dengan pendekatan medis yang tepat dan dukungan sosial yang kuat, depresi dapat ditangani dan kualitas hidup penderita bisa kembali pulih secara bertahap.