PEPO.id - Film Ketindihan (2025) garapan sutradara Dian Suno Prastowo menyajikan horor yang berakar pada mitos lokal tentang jin penindih, Beuno. Sosok ini dipercaya menindih manusia saat tidur, menyebabkan ketakutan luar biasa, kelumpuhan sementara, hingga mimpi buruk yang terasa nyata. Dalam film ini, Beuno muncul bukan sekadar legenda, tetapi sebagai ancaman nyata yang lahir dari tekanan batin seorang gadis muda.

Cerita berpusat pada Tania, atlet tenis muda berbakat yang harus menanggung ambisi besar sang ayah untuk meraih medali emas Olimpiade. Ayahnya, Benny, adalah mantan atlet yang kini menjadi pelatih keras, memperlakukan Tania lebih sebagai murid ketimbang anak. Tekanan demi tekanan membuat Tania jatuh dalam kondisi psikis tak stabil, termasuk gangguan tidur.

Film dibuka dengan adegan spiritual: seorang perempuan mengenakan mukena mengingatkan akan pentingnya doa menghadapi mimpi buruk. Adegan berlanjut pada Nurul, teman Tania, yang ditemukan kejang-kejang akibat gangguan saat tidur. Inilah awal dari rentetan kejadian mengerikan yang dialami para atlet muda di asrama pelatnas.

Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan

Tania bersahabat dengan tiga atlet lain: Nurul, Silmi, dan Leona. Dalam sebuah obrolan santai, mereka membahas fenomena ketindihan yang mulai sering dialami. Silmi memperkenalkan mitos Beuno dari daerah asalnya di Aceh, yang konon mengincar perempuan yang sedang rapuh secara emosional.

Tania, yang tak percaya hal mistis, justru menantang mitos tersebut. Ia melakukan ritual pemanggilan Beuno lewat cermin, memanggil nama jin itu tiga kali. Setelahnya, gangguan supranatural mulai terjadi: suara aneh, benda bergerak sendiri, hingga sosok menyeramkan yang muncul dalam bayangan.

Tragedi terjadi saat Nurul ketindihan dan sleepwalking ke atap gedung. Tanpa sadar, ia terjatuh dan meninggal dunia. Tania yang merasa bersalah semakin terpuruk dan diselimuti mimpi buruk setiap malam. Ia mulai mengalami fenomena sama: tercekik, tak bisa bergerak, dan melihat tangan asing menggerayangi tubuhnya.

Baca Juga: Petualangan Jumbo Bocah Pendongeng yang Menemukan Sahabat Hantu dan Keberanian di Atas Panggung

Di rumah, Tania terjebak dalam keluarga disfungsional. Ibunya, Samanta, sibuk mencari validasi dari media sosial dan tampil vulgar demi popularitas. Sang ayah masih terobsesi dengan kejayaan masa lalu. Hanya sang adik, Timo, yang menunjukkan empati. Namun tekanan itu membuat semua anggota keluarga saling menyalahkan.

Kematian Nurul membuka babak baru teror. Leona dan Silmi menyusul dengan nasib tragis. Tania semakin dirundung rasa bersalah, namun tak bisa lari dari perasaan bahwa Beuno sedang mengejarnya. Di saat bersamaan, hubungan asmara Tania dengan Choki menjadi racun baru. Choki posesif, manipulatif, dan emosional.

Ritual terlarang yang dulu dianggap main-main, kini benar-benar membawa malapetaka. Dalam adegan mencekam, Tania menyaksikan kematian adiknya Timo yang kehabisan napas, disusul ketindihan yang menimpa ibunya di klinik kecantikan. Bahkan Choki pun terkena dampaknya, bertindak di luar kendali sebelum akhirnya meninggal dunia.

Baca Juga: Superman Kembali Jadi Simbol Harapan: Kritik, Kejutan, dan Refleksi Sosial di Bawah Arahan James Gunn

Tania sempat mencoba melawan Beuno dengan berlari dari kenyataan. Namun semuanya memuncak saat ia melihat anggota keluarganya satu per satu jatuh. Ia akhirnya bertemu kembali dengan Ustazah Risa, guru ngajinya di masa kecil, yang mengajarinya doa-doa pelindung seperti ayat kursi dan surat An-Nas.

Puncak film memperlihatkan Tania melakukan perlawanan spiritual. Dalam dunia mimpi yang kelam, ia membacakan ayat suci untuk mengusir Beuno yang hendak membunuh ayah dan kekasihnya. Adegan pertarungan spiritual ini menjadi titik balik Tania dalam membebaskan diri dari kutukan jin penindih.

Setelah berhasil kembali ke alam sadar, Tania bangkit. Ia berkompetisi kembali di lapangan tenis, membawa semangat baru setelah terbebas dari bayang-bayang setan. Piala kemenangan itu dipersembahkan untuk mereka yang telah tiada: Nurul, Timo, ibunya, dan Choki.

Baca Juga: Ratusan Orang Nyanyikan Terbuang Dalam Waktu Bareng Cast Film Sore dan Barasuara

Meski berakhir dengan kemenangan fisik dan spiritual, film ini menyimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Ketindihan diangkat bukan sekadar horor, tapi juga simbol tekanan psikologis akibat keluarga, ekspektasi, dan hubungan toksik.

Secara teknis, Ketindihan menyuguhkan sinematografi gelap, suara-suara mengganggu, dan adegan jumpscare yang tidak murahan. Musik latar mendukung atmosfer mencekam yang dibangun secara perlahan. Semua elemen ini membuat film terasa nyata dan menyentuh.

Selain mistis, film ini juga bicara soal keluarga disfungsional. Sosok ibu yang terlalu narsistik dan ayah yang otoriter digambarkan sebagai pemicu tekanan psikologis pada anak. Film ini menyentil tentang pentingnya komunikasi dan kasih sayang dalam keluarga.

Baca Juga: Pemandi Jenazah (2024) Tampilkan Teror Mistik di Balik Profesi Warisan

Di akhir film, muncul satu pesan tersirat: bahwa bermain-main dengan ritual mistis bukanlah hal yang bisa disepelekan. Ketika mental rapuh bertemu energi negatif, maka terbukalah celah bagi kegelapan untuk masuk.