PEPO.id - Hati terkadang tidak dapat diprediksi karena sering berubah. Seperti cintaku, meski sudah punya istri, terkadang aku tergoda oleh wanita lain.

Bersalah memang, tapi itu terjadi setiap saat. Untungnya, istrinya tidak menyadari hal ini.

"Kadang cintaku terlalu liar" pikirku.

 

Anehnya, saya sering berhubungan seks dengan teman istri saya atau janda tetangga. Anehnya, saya tidak pernah mencium istrinya.

Baca Juga: Tips Jitu Mengatasi Kurang Tidur saat Puasa di Bulan Ramadhan Agar Tubuh Tetap Fit

Pasalnya, istrinya sibuk dengan transaksi pasar. Hingga saya klimaks dengan Nabila, janda dua anak teman istri saya. Saya memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.

"Nabil, jangan sampai bocor soal hubungan kita," kataku saat itu kepadanya.

"Tenang mas, asal mas kasih jatah aja kepadaku," ucap dengan manjanya.

 

Nabila memiliki paras yang cantik dan sosok yang begitu cantik. Jadi, Anda tidak hanya perlu membuangnya, tetapi Anda juga membutuhkan dana untuk mendekatinya.

Baca Juga: Cara Mudah Mengontrol Emosi saat Bulan Puasa, Salah Satunya Istirahat yang Cukup

Saya bekerja sebagai kontraktor dan tidak mengalami kesulitan keuangan. Setiap kali Nabila minta uang, saya pasti siap.

"Terpenting, bisa mengdengar manjanya di sebelah kupingku setiap membutuhkannya," pikirku.

 

Tidak hanya itu, semua yang ada di Nabil enak. Perhatian, memanjakan, memasak, menyentuh.

Pantas saja sekarang aku lebih memilih Nabila daripada istrimu. Namun, saya tetap ingin bersama istri saya karena saya punya anak bersamanya.

Akhirnya istri saya memergoki saya mengunjungi Nabila di pasar.

Baca Juga: Resep Balado Ati Kentang, Hidangan Khas Sumatera Barat yang Banyak Disukai Masyarakat

Tanpa basa-basi aku dimaki istriku karena dia sudah lama curiga.

"Kenapa si mas selalu datang dan membeli dagangan Nabila," marah istriku.

"Lebih enak dan empuk," candaku.

"Aku kurang mas?" tanya istriku.

"Kurang empuk mah" jawabku.

Baca Juga: Objek Wisata Wonogiri Hits, Tempatnya Selalu Ramai Dikunjungi Wisatawan

"Aku gak nyangka kamu malah suka janda itu ketimbang aku," marah istriku.

"Maaf mah, makanya belajar lagi," belaku.

Nabila dan istriku adalah saingan di pasar dalam usaha jajanan bakpao.

Bakpao milik nabila empuk dan enak. Jadi, tidak heran selalu laris manis. Aku pun lebih menyukai bakpao itu.

Walaupun, sebernarnya membeli bakpao Nabila adalah motif lain agar hubungan terlarangku tetap aman.***